Memicu Autofagi, Ketahui Manfaat Puasa untuk Kesehatan – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Memicu Autofagi, Ketahui Manfaat Puasa untuk Kesehatan Kepakaran 4 Maret 2026, 12.39 Oleh : gusti.grehenson Praktik puasa yang dijalankan umat muslim selama bulan Ramadhan, tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan yang signifikan. Durasi puasa yang berkisar 12-14 jam, bahkan lebih di beberapa negara, memicu proses autofagi, yakni mekanisme alami tubuh dalam membersihkan dan mendaur ulang sel-sel yang rusak serta menggantinya dengan komponen sel yang baru. Dosen gizi kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH, menjelaskan bahwa autofagi membutuhkan sekitar 12-16 jam dalam prosesnya. Dengan durasi tersebut, ia menilai puasa Ramadhan sudah cukup memenuhi standar terjadinya detoksifikasi tubuh. “Durasi puasa dapat memicu autofagi di dalam tubuh manusia. Sebab, autofagi membutuhkan sekitar 12-16 jam, sementara puasa Ramadhan bisa 13-14 jam, bahkan di beberapa negara bisa lebih panjang,” ujarnya, Rabu (4/3) di Kampus UGM. Mirza menambahkan bahwa autofagi berperan dalam proses detoksifikasi sekaligus perbaikan sel-sel tubuh yang mengalami kerusakan. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa mekanisme ini berkaitan dengan stabilitas kadar gula darah, peningkatan efektivitas dan sensitivitas kerja insulin, penurunan berat badan, hingga penurunan kadar kolesterol. “Autofagi tersebut bisa menjadi sebuah detoksifikasi dan perbaikan sel-sel yang rusak. Mampu menstabilkan gula darah, memberikan efektivitas kerja dan sensitivitas insulin, mengurangi berat badan, dan menurunkan kadar kolesterol, ” jelasnya. Lebih lanjut, Mirza membedakan antara puasa Ramadhan dan Intermittent Fasting atau puasa intermiten. Menurutnya, keduanya sama-sama memberikan manfaat kesehatan, namun memiliki karakteristik berbeda, terutama dalam hal penurunan berat badan. Pada intermittent fasting, penurunan berat badan umumnya terjadi karena pemanfaatan cadangan lemak dalam tubuh secara lebih optimal. Sementara pada puasa Ramadhan, penurunan berat badan tidak hanya disebabkan oleh pembakaran lemak, tetapi juga karena berkurangnya asupan cairan selama berpuasa. “Kalau IF, berat badan turun karena pemanfaatan lemak sisa di tubuh, sementara puasa Ramadhan karena kekurangan cairan serta pemanfaatan lemak tubuh,” terangnya. Mirza mengungkapkan bahwa dari sisi metabolisme glukosa, manfaat puasa terhadap sensitivitas insulin disebut konsisten di berbagai kelompok usia dan kondisi kesehatan. Pada individu sehat, puasa membantu menjaga sensitivitas insulin tetap optimal. Bagi mereka yang berada dalam kondisi pradiabetes, puasa dapat membantu proses regulasi glukosa sehingga insulin bekerja lebih maksimal. Namun, bagi penderita diabetes tipe 2, diperlukan perhatian khusus terutama terkait konsumsi obat dan pengaturan pola makan. Ia mengingatkan bahwa pasien diabetes yang rutin mengonsumsi obat tetapi tidak mengontrol pola makan saat berbuka dan sahur justru berisiko mengalami hipoglikemia. “Yang rutin minum obat, tetapi menjalankan puasa dan makanannya tidak terkontrol, justru akan berisiko terkena hipoglikemi. Maka, kalau divonis diabetes, jangan cuma fokus sama obat tetapi juga dengan pola makannya,” tegasnya. Selain itu, perubahan pola tidur dan waktu makan selama Ramadan dinilai tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Meskipun terjadi pergeseran jam biologis, kondisi tersebut hanya berlangsung sementara selama satu bulan. “Memang saat bulan puasa ada perbedaan durasi tidur dan makanan. Namun, selama itu tidak perlu khawatir ada perubahan ritme sirkadian, karena waktunya cuma satu bulan,” jelasnya. Dari sisi psikologis, menurut Mirza, puasa juga berpengaruh terhadap stabilitas emosi. Kondisi yang dikenal sebagai sugar rush, yakni respons reaktif akibat asupan gula berlebihan, dapat diminimalkan selama puasa karena aliran glukosa dalam tubuh lebih terkendali. Ia menjelaskan bahwa dengan berkurangnya lonjakan gula darah, seseorang cenderung lebih tenang dan tidak mudah tersulut emosi. “Dengan puasa, banjir kanal glukosanya lebih terkendali, jadi kita bisa lebih tenang dan otak kekurangan glukosa jadi lebih sabar, tidak tersulut emosi,” ungkapnya. Terkait pemenuhan gizi, ia menekankan bahwa puasa pada dasarnya tidak mengurangi kebutuhan nutrisi, melainkan hanya menggeser waktu konsumsi makanan. Oleh karena itu, masyarakat perlu memastikan asupan zat gizi yang seimbang dan kompleks saat sahur maupun berbuka. “Pada Ramadan bisa tetap memenuhi kebutuhan gizi karena hanya jamnya yang berbeda. Yang jadi masalah adalah ketidaktahuan kita untuk memenuhi gizi kita,” tuturnya
Memicu Autofagi, Ketahui Manfaat Puasa untuk Kesehatan
