Geowisata GEA 73 2026: Antara Panas Kamojang dan Persahabatan Abadi | Sains Indonesia Masuk IkutLaporan UtamaPertanian dan PerikananMaritimPariwisataHankamKesehatanPendidikanKolomLifestyleLingkungan dan KehutananEnergiGeraiSurat Dari Redaksi Masuk SELAMAT DATANG!Masuk ke akun Andanama penggunakata sandi Anda Lupa kata sandi Anda? Buat sebuah akun Daftar SELAMAT DATANG!Mendaftar membuat akunemail Andanama pengguna Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda. Pemulihan passwordMemulihkan kata sandi andaemail Anda Cari Jumat, Februari 13, 2026Masuk / BergabungBerlangganan MasukSelamat Datang! Masuk ke akun Andanama penggunakata sandi Anda Lupa Password? Klik Bantuan Buat sebuah akunBuat sebuah akunSelamat datang! daftar untuk akunemail Andanama pengguna Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda.Pemulihan passwordMemulihkan kata sandi andaemail Anda Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda. Sains Indonesia Laporan UtamaPertanian dan PerikananMaritimPariwisataHankamKesehatanPendidikanKolomLifestyleLingkungan dan KehutananEnergiGeraiSurat Dari Redaksi Beranda Pariwisata Catatan Wisata Geowisata GEA 73 2026: Antara Panas Kamojang dan Persahabatan AbadiPariwisataCatatan WisataDestinasi WisataPendidikanEkonomiKebudayaanRekomendasi KulinerUncategorizedGeowisata GEA 73 2026: Antara Panas Kamojang dan Persahabatan AbadiAlumni Teknik Geologi ITB Angkatan 1973 melakukan Geowisata selama 2 hari di Garut, melanjutkan persahabatan yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun.Penulis Faris Sabilar R – 12/01/2026043BagikanFacebook Twitter Pinterest WhatsApp Tengah hari sudah berlalu, ketika mendung dan gerimis tipis menggantung rendah di perbukitan Kamojang. Jalanan naik turun berkelok-kelok, melibas udara dingin di luar. Dari kejauhan, pipa-pipa besar berwarna perak tampak meliuk di antara hamparan hijau, mengepulkan uap putih yang naik perlahan ke langit. Inilah pemandangan di Kamojang, kawasan panas bumi legendaris di Garut yang dikelola Pertamina Geothermal Energy (PGE). Konon, sumur panas bumi pertama sudah beroperasi sejak zaman Belanda, sekitar 100 tahun silam. Kamojang menjadi saksi bagaimana energi alam perut Bumi diolah menjadi listrik, jauh sebelum isu energi bersih jadi pembicaraan global. Dan PGE Kamojang menjadi destinasi pertama rombongan geowisata alumni Teknik Geologi ITB Angkatan 1973 (GEA 73) selama dua hari itu.GEA 73 mengunjungi PLTP Kamojang yang dikelola Pertamina Geothermal Energy. Sabtu, 10 Januari 2026.GEA 73 berdiskusi dengan pihak PGE dan mendapatkan informasi tentang tata kelola Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi.GEA 73, yang diwakili R Sukhyar memberikan kenang-kenangan berupa Buku Kiprah GEA 73: Dari Kampus Ganesha Untuk Negeri kepada perwakilan PGE, Teza PurnamaCerita perjalanan ini dimulai sejak Sabtu subuh, 10 Januari 2026. Pukul 05.30–06.00 WIB, satu per satu peserta datang ke Titik Kumpul 1, Jl Ampera Raya 126–126A, yang merupakan kediaman Bambang Noto, salah seorang GEA 73. Setelah semua peserta berkumpul, pukul 06.30 WIB rombongan meluncur dari Jakarta menuju Bandung.Lalu lintas di tol relatif lancar. Namun cerita berbeda terjadi di rest area. Hampir semuanya padat merayap. Parkiran penuh, antrian toilet mengular, dan aroma kopi bercampur mie rebus seolah menjadi penanda bahwa liburan sekolah belum benar-benar usai. Rombongan GEA 73 Jakarta di depan kediaman Bambang Noto, sesaat sebelum berangkat menuju Bandung. Sabtu, 10 Januari 2026.Tidak seperti lalu lintas Jakarta-Bandung yang relatif lancar, rest area justru ramai sekali. Seperti terlihat di rest area KM 88 ini.Tiba di PGE – Kamojang. Walaupun sedikit gerimis, tapi semangat tetap membara. Itulah semangat GEA 73.Lewat pukul 10.00 WIB, rombongan tiba di Titik Kumpul 2, Jl Purnawarman 78 Bandung, di kediaman Haposan Napitupulu, yang juga seorang GEA 73. Bergabungnya rombongan Bandung semakin menghidupkan suasana. Tanpa berlama-lama, 10-15 menit kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Garut, menembus jalur berkelok dengan pemandangan pegunungan yang memanjakan mata. Pukul 13.45 WIB, rombongan tiba di Kantor Kamojang Pertamina Geothermal Energy (PGE), dan disambut hangat oleh Teza Purnama dan Erwandi, perwakilan manajemen PGE.Suasana diskusi terasa cair, jauh dari kesan formal. Dalam paparannya, Teza mengajak semua peserta “menyelam” ke sejarah Kamojang. Kawasan ini bukan sekadar lapangan panas bumi biasa. Secara geologi, Kamojang adalah wilayah unik, menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) tertua dan perintis di Indonesia. Dari sinilah pionir energi panas bumi nasional bermula. Dari awalnya 30 MW, PGE kini berkembang dengan total kapasitas terpasang 235 MW.Menurut Teza, PLTP Kamojang terus menjaga performa stabil melalui pemeliharaan rutin dan terstruktur. Pembersihan turbin dan pemantauan kualitas uap dilakukan secara berkala untuk memastikan kebersihannya, serta injeksi kembali fluida panas bumi ke reservoir agar pasokan panas bumi berkelanjutan. “Itulah mengapa kami tidak hanya memiliki sumur produksi, tapi juga sumur injeksi yang berfungsi menjaga tekanan tetap stabil,” jelasnya.Diskusi kemudian mengalir, dari soal geologi, energi terbarukan, hingga peran masyarakat sekitar. Sebelum pamit, rombongan diperkenalkan dengan oleh-oleh khas Kamojang: kopi yang diproses dengan panas bumi. Produk UMKM pengolahan kopi binaan PGE. Salah satu Staff PGE berkelakar bahwa konon rasa kopinya sangat unik, seperti Kamojang itu sendiri.Danau Sampireun terlihat begitu tenang, memantulkan langit Garut yang siang itu mendung.Bernyanyi dan berjoget bersama. Melepas lelah setelah seharian perjalanan Jakarta-Bandung-Garut.R Sukhyar dan Istri turut menyumbangkan lagu-lagu kenangan yang menambah nuansa nostalgia bagi GEA 73Sore hari pukul 16.00, rombongan bergeser ke Kampung Sampireun. Danau Sampireun menyambut dengan tenang, airnya memantulkan langit Garut yang sedari tadi masih mendung. Pemandangan alamnya luar biasa. Ngopi sore ditemani camilan ringan terasa sempurna, seolah melepas penat setelah perjalanan panjang Jakarta-Bandung-Garut yang melelahkan. Menjelang petang, perjalanan dilanjutkan ke Hotel Tirtagangga, Cipanas, Tarogong. Malam harinya, suasana berubah jadi hangat dan meriah. Makan malam dilanjutkan kongko-kongko, lengkap dengan nyanyi bersama diiringi organ tunggal. Lagu-lagu lama mengalun, memancing nostalgia dan tawa, seolah mengingatkan bahwa persahabatan terkadang tidak butuh agenda rumit, cukup ruang dan luang waktu.Minggu pagi, 11 Januari 2026, dimulai santai. Di sela-sela Garut yang diguyur hujan pagi itu, ada yang memilih berenang, berendam air hangat, olahraga ringan, atau sekadar menikmati sarapan sambil bercengkerama. Pukul 10.00, setelah hujan mereda, rombongan check out dan menuju Candi Cangkuang, candi Hindu kecil nan bersejarah yang berdiri anggun di tengah danau, dikelilingi kampung adat.GEA 73 berpose di depan Hotel Tirtagangga. Minggu, 11 Januari 2026.Setiabudi D dan Hardjoni mencoba 7 air sumur Kp Pulo, Desa Wisata Adat di pelata
Geowisata GEA 73 2026: Antara Panas Kamojang dan Persahabatan Abadi
