Perkuat Riset Polar, UGM dan Kemenlu RI Dorong Kerja Sama Internasional di Wilayah Kutub – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaSeminar/Workshop Perkuat Riset Polar, UGM dan Kemenlu RI Dorong Kerja Sama Internasional di Wilayah Kutub Seminar/Workshop 12 Februari 2026, 16.17 Oleh : gusti.grehenson Dunia saat ini menghadapi dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global yang menyebab kenaikan muka air laut, perubahan pola curah hujan, peningkatan frekuensi cuaca ekstrem, serta gangguan terhadap ekosistem pesisir dan kelautan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa proses transformasi lingkungan di kawasan Arktik dan Antarktika tidak dapat dipisahkan dari realitas dampak langsung maupun tidak langsung terhadap negara-negara tropis, termasuk Indonesia. Oleh karena itu diperlukan kerja sama strategis antara negara di kawasan tropis dengan negara di wilayah kutub. Hal itu mengemuka dalam dalam Seminar Nasional bertajuk “Indonesia in a Connected Tropical–Polar World” pada Kamis (2/12) di ruang multimedia Gedung Pusat UGM. Seminar yang diselenggarakan oleh UGM bekerja sama dengan Direktorat Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa, Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya Penasihat Menteri Luar Negeri RI Bidang Sosial, Budaya, dan Pembangunan Manusia, H.E. Amb. Kamapradipta Isnomo, Duta Besar Denmark untuk Indonesia H.E. Amb. Sten Frimodt Nielsen dan Duta Besar Chile untuk Indonesia H.E. Amb. Mario Ignacio Artaza Loyola. Hadir pula diplomat senior Kementerian Luar Negeri RI, Hendra Oktavianus dan Andre Omer Siregar, serta Ratih Damayanti selaku Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran BRIN. Rektor UGM, Ova Emilia, mengatakan perkembangan lingkungan yang yang terjadi di kawasan Arktik dan Atlantik, memiliki keterkaitan langsung dengan kepentingan Indonesia. Menurutnya, transformasi di kawasan polar memiliki dampak langsung terhadap Indonesia, terutama dalam bentuk kenaikan muka air laut. “Tantangan ini menegaskan bahwa jarak geografis tidak lagi menentukan relevansi strategis suatu kawasan,” tegas Ova. Menurutnya, Indonesia tidak dapat lagi hanya menempatkan diri sebagai penerima dampak perubahan lingkungan global. Sebaliknya, perlu mengambil peran yang lebih aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan perumusan kebijakan internasional. “Indonesia tidak bisa hanya menjadi end recipient dari perubahan lingkungan global. Sudah saatnya kita berperan lebih aktif sebagai kontributor terhadap pengembangan pengetahuan ilmiah dan kebijakan berbasis riset di tingkat global,” katanya. Ova menambahkan, keterlibatan aktif tersebut penting untuk menjaga ketahanan nasional sekaligus memastikan bahwa perspektif negara tropis dan kepulauan mendapatkan representasi yang setara dalam diskursus global mengenai iklim dan kawasan polar. “Partisipasi ini bukan semata untuk safeguarding national resilience, tetapi juga untuk memastikan bahwa perspektif dan pengalaman negara tropis serta kepulauan seperti Indonesia terwakili secara adil dalam percakapan global,” imbuhnya. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung pentingnya pembentukan pusat riset polar sebagai langkah strategis dan institusional yang berjangka panjang. “Pembentukan pusat riset polar harus dipahami sebagai langkah strategis yang mendalam. Ini adalah platform penting untuk memajukan adaptasi perubahan iklim, memperkuat diplomasi sains, dan mendukung kepentingan nasional jangka panjang Indonesia,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa riset polar bersifat multidisipliner dan memerlukan pendekatan terintegrasi. Sebab, tantangan di kawasan polar tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Kita memerlukan kolaborasi antara ilmu iklim, oseanografi, biodiversitas, sistem energi, hingga analisis geopolitik. “Pendekatan terintegrasi inilah yang akan memastikan hasil riset mampu menginformasikan kebijakan dan berkontribusi pada solusi global,” jelasnya. Bersama dengan kesepahaman tersebut, H.E. Amb. Kamapradipta Isnomo, menekankan bahwa kawasan kutub memiliki arti strategis yang semakin signifikan, baik dalam konteks stabilitas sistem iklim global maupun dinamika geopolitik internasional. Baginya, perubahan yang terjadi di kawasan Arktik dan Antarktika tidak hanya berdampak pada keseimbangan lingkungan dunia, tetapi juga memengaruhi arsitektur tata kelola global, jalur perdagangan, keamanan energi, hingga konfigurasi kekuatan antarnegara. “Kawasan kutub hari ini bukan lagi wilayah yang jauh dan terpisah dari kepentingan kita. Ia memainkan peran sentral dalam menjaga stabilitas iklim global dan pada saat yang sama menjadi ruang strategis dalam percaturan geopolitik internasional,”
Perkuat Riset Polar, UGM dan Kemenlu RI Dorong Kerja Sama Internasional di Wilayah Kutub
