Transformasi Rimbawan, Dari Penjaga Hutan hingga Manajer Lingkungan

Transformasi Rimbawan, Dari Penjaga Hutan hingga Manajer Lingkungan – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Transformasi Rimbawan, Dari Penjaga Hutan hingga Manajer Lingkungan Kepakaran 17 Maret 2026, 08.55 Oleh : gusti.grehenson Hari Rimbawan yang jatuh pada 16 maret 2026 ini menjadi momentum krusial bagi arah kebijakan kehutanan Indonesia. Di tengah keberhasilan menekan laju deforestasi sebesar 11% pada tahun 2025, profesi rimbawan dituntut untuk bertransformasi dari sekadar “penjaga hutan” konvensional menjadi manajer lingkungan berbasis sains dan teknologi. Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, S.Hut., M.Sc., menekankan bahwa esensi rimbawan di era modern tidak bisa hanya sebatas mengatur kondisi lingkungan secara manual, melainkan perlu dibekali dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Kemajuan teknologi dalam sistematisasi untuk monitoring dan evaluasi ekosistem hutan menjadi penting untuk dikembangkan saat ini. Kita tidak mengatur kondisi lingkungan, tetapi kita mengatur tekanan terhadap hutan dan memantau kondisi hutan yang terdampak berbasis saintek,” ungkapnya, Selasa (16/3). Menanggapi capaian impresif penurunan deforestasi tahun lalu, Fiqri menegaskan bahwa hasil tersebut bukan semata-mata buah dari kebijakan teknis di atas kertas. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan buah dari sinergi antara kebijakan yang tepat dan pendampingan imersif di lapangan. “Keberhasilan penurunan laju deforestasi tidak hanya buah dari kebijakan, tetapi juga dari dinamika sosial di lapangan yang sudah mendapatkan pendampingan yang tepat. Adanya kebijakan, tanpa pendampingan yang tepat maka tidak akan berjalan dengan optimal,” jelasnya. Lebih lanjut, ia juga menyoroti posisi tawar profesi rimbawan saat ini yang harus terus berpegang teguh sebagai penelaah kawasan hutan yang sesuai dengan fungsi peruntukannya. Ia menegaskan bahwa peruntukan dan pemanfaatan hutan harus berpijak pada kondisi kesehatan hutan. Apabila kesepakatan tawar-menawar berlandaskan kepentingan dan mengabaikan aspek ekologis, maka dapat dipastikan hanya akan memperluas lahan yang terdegradasi dan berdampak langsung pada kerentanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Peruntukan dan pemanfaatan hutan harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan hutan serta daya dukung ekosistem. Tawar menawar yang tidak sesuai justru akan meningkatkan lahan terdegradasi,” ungkapnya. Di sisi lain, rencana pemerintah membuka formasi Polisi Kehutanan  (Polhut) hingga 70.000 memicu perdebatan mengenai efektivitas pengawasan. Fiqri menilai, meskipun penambahan personel penting untuk penguatan wilayah, investasi pada teknologi berbasis Internet of Things (IoT) jauh lebih mendesak guna memantau kawasan hutan dengan luas 125 juta hektar secara real-time. “Optimalisasi personel saat ini yang melek teknologi penting untuk menjadi modal sistem dasar. Pengembangan IoT mampu membantu monitoring kawasan hutan yang luas. Penambahan personel dapat juga dilakukan untuk penguatan, tapi tidak murni hanya patroli,” tegasnya. Sementara itu, bencana alam seperti tanah longsor dan banjir yang marak terjadi beberapa bulan terakhir, menunjukkan adanya kendala serius dalam intervensi vegetatif. Menurutnya, waktu dan energi menjadi hambatan utama bagi rimbawan dalam melakukan pemulihan fungsi hidrologis hutan di daerah aliran sungai. Selain bencana hidrometeorologi, penyempitan habitat asli juga terus memicu konflik antara satwa dan manusia. Fiqri berpendapat bahwa penguatan kajian Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) merupakan strategi paling ideal dalam mengelola zona penyangga. “Kajian Kawasan Ekosistem Esensial saat ini menjadi penting sebagai strategi permasalahan konflik satwa dan manusia,” pungkasnya.   Penulis : Aldi Firmansyah Editor : Gusti Grehenson Foto : Forestdigest Tags: Rimbawan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim SDG 15: Ekosistem Daratan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDGs Berita Terkait Kunjungan Wisata Meningkat di Libur Lebaran, Masyarakat Diimbau Tidak Buang Sampah Sembarangan 17 Maret 2026 Marak OTT Kepala Daerah, Biaya Politik Tinggi dan Lemahnya Sistem Pengawasan  17 Maret 2026 Menjaga Kesehatan dan Kebugaran di Tengah Perjalanan Mudik 17 Maret 2026 Berita Terbaru Kunjungan Wisata Meningkat di Libur Lebaran, Masyarakat Diimbau Tidak Buang Sampah Sembarangan 17 Maret 2026 Marak OTT Kepala Daerah, Biaya Politik Tinggi dan Lemahnya Sistem Pengawasan  17 Maret 2026 Menjaga Kesehatan dan Kebugaran di Tengah Perjalanan Mudik 17 Maret 2026 Transformasi Rimbawan, Dari Penjaga Hutan hingga Manajer Lingkungan 17 Maret 2026 Mudik Lebaran, Dosen UGM Imbau Waspada Penularan Campak pada Anak 17 Maret 2026 Agenda Terbaru 21Jun Su

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *