Sesar Cisadane Membentang Jabodetabek, Warga Perlu Waspada login register logout For You Nasional Politik Hukum & Kriminal Peristiwa Pemilu Info Politik BERITA TERBARU Internasional Asean Asia Pasifik Timur Tengah Eropa Amerika BERITA TERBARU Ekonomi Keuangan Energi Bisnis Makro Corporate Action BERITA TERBARU Olahraga Sepakbola Moto GP F1 Raket BERITA TERBARU Teknologi Teknologi Informasi Sains Telekomunikasi Climate BERITA TERBARU Otomotif Tren Mobil Motor E-Vehicle Commercial Info Otomotif BERITA TERBARU Hiburan Film Musik Seleb Seni Budaya Music At Newsroom BERITA TERBARU Gaya Hidup Health Food Travel Trends BERITA TERBARU CNN TV Ragam Foto Video Infografis Indeks Fokus Kolom Terpopuler Features Search History Loading… Teknologi Sains Sesar Cisadane Membentang Jabodetabek, Warga Perlu Waspada CNN Indonesia Sabtu, 21 Mar 2026 08:10 WIB Bagikan: url telah tercopy Ilustrasi. Badan Geologi ESDM mengungkap jejak Sesar Cisadane di Jabodetabek. Penelitian melibatkan ekspedisi ke Gunung Nyungcung dan Gunung Panjang. (Foto: iStockphoto) Jakarta, CNN Indonesia — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama sejumlah pihak mengungkap keberadaan jejak Sesar Cisadane yang membentang di wilayah Jabodetabek. Sesar ini menjadi salah satu struktur geologi yang mengelilingi Jakarta bersama Sesar Baribis dan Sesar Citarik.Sesar Cisadane menyimpan rekam jejak aktivitas tektonik yang pada masa lalu diduga pernah membelah gunung.Lihat Juga :Ratusan Gempa Kecil Dalam Sebulan, Sesar Lembang Ancam Bandung Raya? ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Untuk menelusuri lebih jauh keberadaan sesar tersebut, tim peneliti melakukan ekspedisi lapangan ke Gunung Nyungcung di Rumpin, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini melibatkan Badan Geologi, Badan Informasi Geospasial (BIG), BPBD Kabupaten Bogor, serta PT Oseanland. Gunung Nyungcung berjarak sekitar 20 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta.”Bukit dengan ketinggian 240 meter di atas permukaan laut ini merekam jejak Sesar Cisadane, nama yang mungkin masih asing di telinga warga Jabodetabek,” tulis sebuah video yang diunggah Badan Geologi di Instagram, Jumat (6/2). Dalam penelitian tersebut, para peneliti menggunakan berbagai metode untuk mengungkap kondisi geologi wilayah tersebut. Metode yang digunakan antara lain analisis data gaya berat, data seismik untuk mengamati struktur bawah permukaan, pengamatan geologi di permukaan, serta metode pemetaan udara menggunakan drone yang dilengkapi sensor LiDAR.Kombinasi teknologi VTOL LiDAR untuk pemetaan area luas dan SLAM LiDAR untuk detail mikro memungkinkan para peneliti melakukan interpretasi geologi secara lebih komprehensif.”Dari berbagai metode tersebut menunjukkan adanya sesar mendatar berarah relatif barat laut tenggara. Karena posisinya mengikuti aliran Sungai Cisadane, maka patahan ini diberi nama Sesar Cisadane,” terang narator dalam video tersebut.Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu menjadi acuan awal bagi para peneliti dalam menelusuri bukti keberadaan sesar tersebut.Wilayah di sekitar Gunung Nyungcung diketahui tersusun dari beberapa jenis batuan, terutama batu pasir gampingan. Batuan ini menjadi petunjuk bahwa Gunung Nyungcung kemungkinan merupakan dasar laut yang terangkat ke permukaan.Lihat Juga :Bukan Sinkhole, Pakar Ungkap Alasan Lubang Raksasa Aceh Terus MelebarTerangkatnya batuan tersebut, serta kemunculan Gunung Nyungcung, juga menunjukkan indikasi adanya sesar naik yang merupakan bagian dari pola Sesar Baribis dengan arah barat-timur.Pola tersebut sejajar dengan Gunung Panjang yang berada di sisi timur Gunung Nyungcung. Kedua gunung ini diketahui sama-sama tersusun dari batu pasir gampingan yang diterobos batuan beku.”Artinya, di masa lalu, kedua gunung ini saling terhubung, hingga suatu masa keduanya terpisahkan oleh sungai Cisadane. Terpisahnya kedua gunung ini menunjukkan adanya faktor tektonik, yaitu sesar Cisadane,” jelasnya.”Sesar ini diperkirakan memanjang dari Bogor hingga pesisir Tangerang, dan diduga potensi aktif, seperti terekam di penampang seismik,” tambahnya.Ekspedisi kemudian dilanjutkan ke Gunung Panjang. Di lokasi ini, para peneliti kembali menemukan bukti bahwa wilayah tersebut pada masa lalu merupakan laut dangkal yang terangkat akibat aktivitas tektonik.Temuan tersebut didukung oleh sejumlah sampel batuan serta keberadaan banyak fosil moluska di kawasan tersebut.Pilihan RedaksiBRIN soal Banyak Banjir Bandang: Alarm Runtuhnya Ekosistem HutanBRIN Ungkap Cemaran Kimia Cisadane Timbulkan Efek Kesehatan KronisPLTN Beroperasi 2032, BRIN Butuh 200 Peneliti Baru”Ini menjadi bukti kalau jutaan tahun yang lalu, daerah ini merupakan laut dangkal. Dasar laut ini kemudian terangkat oleh faktor tektonik yaitu pola Sesar Baribis atau yang belakangan dikenal West Java Back Arch Trust,” ujar narator dalam video lanjutan.Berdasarkan hasil pengamatan dari berbagai metode, Gunung Panjang diperkirakan dahulu terhubung dengan Gunung Nyungcung di Rumpin yang berada di sisi barat.Namun pada suatu masa, kedua gunung tersebut terpisah oleh aliran Sungai Cisadane akibat aktivitas sesar mendatar atau geser yang berarah barat laut-tenggara, yang kemudian dikenal sebagai Sesar Cisadane.”Jejak sesar tersebut terekam di puncak gunung panjang. Sebuah rekahan memanjang berarah barat laut Tenggara searah dengan pola sesar Cisadane. Kalau ditarik ke arah barat laut dari gunung panjang, rekahan memanjang ini tepat mengarah ke wilayah Tangerang Selatan dan diperkirakan memotong batuan rumur kuarter atau batuan rumur muda,” katanya.Pada celah rekahan tersebut juga muncul mata air panas yang kini dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat pemandian. Fenomena bentang alam berupa kubah memanjang di atas sesar di Gunung Panjang menjadi bukti lain keberadaan pola Sesar Cisadane.Berdasarkan pengamatan para peneliti sejauh ini, sesar tersebut dinilai memiliki potensi aktif.Perlu waspada, tapi tak perlu panikKepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan bahwa Sesar Cisadane merupakan sesar tua yang diperkirakan terbentuk sekitar 5 juta tahun lalu.”Sesar Cisadane memang ada, dengan arah umum Barat Laut-Tenggara searah Sungai Cisadane,” kata Lana, melansir CNBC, Sabtu (7/2).”Dengan adanya retakan memanjang di Gunung Panjang di dekat Sungai Cisadane (sebelah timur Sungai Cisadane) dan arah retakan tersebut sama dengan arah Sesar Cisadane (Barat Laut-Tenggara) menjadi bukti lain adanya Sesar Cisadane,” lanjut dia.Menurut Lana, keberadaan sesar tersebut belum tentu aktif. Meski demikian, masyarakat yang tinggal di sekitar lintasan sesar tetap perlu meningkatkan kewaspadaan.”Dengan adanya deretan rawa alami (sag pond dalam istilah tektonik geomorfologi) searah dengan retakan di Gunung Panjang, dan retakan memanjang tersebut memotong batuan Kuarter (kurang lebih 2 juta tahun lalu), perlu diwaspadai keberadaan sesar tersebut,” kata Lana.Ia menegaskan masyarakat tidak perlu panik dan diimbau tetap mengikuti arahan serta informasi dari petugas BP
Related Posts
"Saya masih hidup…" – Benjamin Netanyahu jawab spekulasi kematian
"Saya masih hidup…" – Benjamin Netanyahu jawab spekulasi kematian
Prestasi Mahasiswa
Prestasi Mahasiswa
All England 2026: Dua beregu campuran negara pulang awal
All England 2026: Dua beregu campuran negara pulang awal
