Soal Coronavirus Anjing, Guru Besar UGM Sebut Tidak Bersifat Zoonosis

Soal Coronavirus Anjing, Guru Besar UGM Sebut Tidak Bersifat Zoonosis – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Soal Coronavirus Anjing, Guru Besar UGM Sebut Tidak Bersifat Zoonosis Kepakaran 19 Februari 2026, 15.05 Oleh : gusti.grehenson Di tengah antisipasi pemerintah menanggulangi penyebaran virus nipah yang dianggap berpotensi menjadi ancaman global, virus-virus zoonosis lainnya yang disinyalir bisa menular dari hewan ke manusia mulai patut diwaspadai. Salah satu adalah Canine coronavirus (CCoV), atau coronavirus anjing. Meskipun memiliki nama yang serupa, pada kenyataanya virus ini berbeda dengan SARS-CoV-2 yang pernah menjadi penyebab pandemi COVID-19 pada 2019 silam. Namun sejauh ini, virus dari anjing ini dikatakan belum bersifat zoonosis. Sebab, mutasi virus dari hewan agar bisa beradaptasi ke manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun dan seringkali memerlukan inang perantara. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM pada Bidang Mikrobiologi, Prof. Dr. drh. Tri Untari, M.Si., mengatakan bahwa sebenarnya zoonosis dari anjing ke manusia sangatlah sulit terjadi. Terlebih, coronavirus pada anjing mempunyai reseptor yang berbeda dengan virus Covid pada manusia. Sebab, Canine coronavirus terutama menggunakan reseptor Aminopeptidase N (APN) atau CD13, dimana saluran pencernaan sebagai targetnya,  walaupun ada Canine coronavirus type respirasi  yang menyerang saluran respirasi tetapi menggunakan reseptor lain. Berbeda dengan virus Covid-19 pada manusia yang menggunakan reseptor Angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2), yang terdapat pada  saluran pernapasan. Menurutnya, suatu virus dari hewan untuk menjadi zoonosis, tidaklah mudah, karena harus ada  kecocokan reseptor, tropisma sel, dan enzim protease hospes agar virus bisa menempel, masuk dan bereplikasi, kemudian dapat  diekskresikan dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi manusia. “Perbedaan struktur molekul virus dan reseptor ini, mengakibatkan virus dari anjing tidak mudah menginfeksi sel manusia,” kata Untari, kamis (19/2). Lebih lanjut, Untari mengungkapkan bahwa coronavirus pada anjing bersifat tipe enterik atau menyerang pencernaan,  menular lewat jalur fekal-oral bukan lewat pernapasan seperti halnya Covid-19 pada manusia. “Pada prinsipnya virus dari anjing ke manusia untuk dapat menjadi zoonosis, perlu adaptasi dan biasanya perlu waktu yang lama,” jelasnya. Untari menjelaskan, jika ada anjing yang dites secara serologis positif COVID-19, yang dihubungkan dengan pemiliknya yang pernah sakit Covid-19, hal tersebut hanya menunjukkan bahwa anjing pernah terpapar dan mempunyai respon antibodi, tetapi belum dapat dikatakan zoonosis. Apalagi didukung oleh hasil tes PCR-nya negatif, yang membuktikan virus tidak bereplikasi dan tidak bisa ditularkan. “Jadi coronavirus  dari anjing masih jauh untuk menjadi zoonosis, karena harus  bermutasi atau beradaptasi ke manusia,” paparnya. Departemen mikrobiologi FKH UGM juga meneliti berbagai virus dan bakteri, yang saat sekarang didukung oleh lima dosen aktif. Penelitian yang telah beliau lakukan diantaranya  pembuatan antibodi poliklonal untuk deteksi virus Newcastle Disease (ND) dan Avian Influenza (AI), Bovine Herpes virus pada sapi, penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi, dan Avian Infectious Bronchitis (coronavirus pada ayam). Untari menegaskan bahwa penelitian-penelitiannya kebanyakan difokuskan pada virus hewan yang bukan zoonosis, karena penelitian virus zoonosis sendiri membutuhkan laboratorium khusus bersyarat ketat agar agen penyakit tidak mencemari lingkungan. Terakhir, Untari pun mengimbau masyarakat agar tidak langsung percaya dan menelan mentah-mentah informasi tentang zoonosis yang seolah olah dapat menyebabkan pandemi seperti Covid-19. Mutasi virus dari hewan agar bisa beradaptasi ke manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun dan seringkali memerlukan inang perantara. “Masyarakat tidak perlu takut memelihara hewan peliharaan asalkan dipelihara dengan management yang benar, seperti menjaga kebersihan kandang, memberikan pakan yang baik, dan vaksinasi,” pesannya. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson Foto : Freepik Tags: Coronavirus Anjing SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak SDGs Zoonosis Berita Terkait Polemik Penonaktifan 11 Juta PBI JKN, Dosen UGM Soroti Tata Kelola dan Komunikasi Kebijakan BPJS Kesehatan 19 Februari 2026 Jumlah Kelas Menengah RI Turun, Minimnya Ketersediaan Lapangan Pekerjaan 18 Februari 2026 RI Punya Potensi Logam Tanah Jarang, Pakar UGM Sebut Wilayah Prospektif dan Tantangan Teknologi Ekstraksi 18 Februari 2026 Berita Terbaru Soal Coronavirus Anjing, Guru Besar UGM Sebut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *