Outlook Kredit Menurun, Ekonom UGM Desak Pemulihan Kredibilitas Kebijakan

Outlook Kredit Menurun, Ekonom UGM Desak Pemulihan Kredibilitas Kebijakan – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Outlook Kredit Menurun, Ekonom UGM Desak Pemulihan Kredibilitas Kebijakan Kepakaran 24 Februari 2026, 08.32 Oleh : gusti.grehenson Merosotnya outlook kredit Indonesia oleh Moody’s Investors Service dan adanya sorotan serupa dari Standard & Poor’s Global Ratings memicu diskusi serius mengenai arah ekonomi nasional. Tidak hanya menjadi isu teknis ekonomi, tetapi menimbulkan kekhawatiran masyarakat dan investor. Meski status layak investasi masih dipertahankan, perubahan ini menjadi sinyal melemahnya tata kelola kebijakan, meningkatnya risiko fiskal, hingga berpotensi menurunkan kepercayaan investor terhadap arah ekonomi Indonesia. Ekonom Universitas Gadjah Mada, Dr. Eddy Junarsin, menyebut bahwa penurunan outlook kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat global merupakan sinyal peringatan dini terhadap meningkatnya persepsi risiko ekonomi ke depan, namun belum menjadi indikator krisis ekonomi nasional. Meskipun peringkat kredit Indonesia tetap berada di level layak investasi (investment grade), perubahan outlook ini mencerminkan persepsi risiko investor terhadap tata kelola kebijakan dan kapasitas institusional ke depan. “Penurunan credit outlook harus dibaca sebagai early warning signal, artinya tidak serta-merta menjadi vonis krisis. Outlook tersebut mencerminkan potensi arah kebijakan dan kapasitas institusional dalam 12–24 bulan mendatang, sehingga yang diuji bukan hanya kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga kredibilitas kebijakan negara di mata pasar global,” jelasnya, Selasa (24/2). Ia menambahkan bahwa penurunan outlook kredit Indonesia belum menunjukkan ancaman fundamental terhadap perekonomian nasional, melainkan lebih sebagai sinyal reputasi dan persepsi risiko di pasar global. Ia menjelaskan, sejumlah indikator makro masih menunjukkan kondisi yang relatif robust, seperti pertumbuhan ekonomi tahun 2025 sebesar 5,11%, inflasi Januari 2026 3,55% yang termasuk moderat, policy rate saat ini sebesar 4,75% yang masih acceptable, rasio defisit anggaran terhadap GDP 2025 sebesar 2,92% yang masih di bawah batas teoretis 3%, ataupun rasio utang terhadap GDP 2025 yang manageable, yaitu 40,46%, yang masih di bawah batas teoretis 60%. Menurutnya, tantangan utama terletak pada kredibilitas kebijakan ke depan, karena pelaku pasar menilai konsistensi fiskal, transparansi kebijakan, dan kejelasan arah ekonomi sebagai faktor utama dalam menentukan kepercayaan investor. “Saya melihat situasinya belum pada tahap yang mengkhawatirkan secara fundamental. Yang perlu dijaga adalah kredibilitas kebijakan ke depan. Ini serius sebagai sinyal reputasi dan persepsi risiko, tetapi belum menjadi ancaman struktural bagi perekonomian nasional,” ucapnya. Dalam metodologi pemeringkatan sovereign rating yang digunakan Moody’s Investors Service, penilaian tidak hanya didasarkan pada kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga kredibilitas kebijakan, konsistensi tata kelola, serta prediktabilitas keputusan fiskal pemerintah. Investor global, menurutnya, sangat sensitif terhadap kejelasan arah kebijakan, termasuk terkait pembiayaan belanja negara, disiplin fiskal, dan transparansi komunikasi pemerintah. Beberapa faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik, suku bunga global, dan volatilitas pasar keuangan turut mempengaruhi persepsi investor terhadap negara berkembang, tetapi kekuatan institusi dan kebijakan domestik menjadi penentu utama respons pasar serta kepercayaan investor. “Jadi, yang menjadi penentu utama adalah kekuatan institusi dan kredibilitas kebijakan domestik, sementara faktor eksternal lebih sebagai penguat tekanan,” tuturnya. Dalam jangka pendek, perubahan outlook kredit dapat berdampak pada sentimen pasar keuangan domestik dibandingkan fundamental ekonomi. Ia menjelaskan reaksi awal pasar umumnya bersifat psikologis dan berbasis ekspektasi, sehingga tekanan dapat muncul pada nilai tukar, volatilitas pasar saham, serta kenaikan biaya utang negara. Tekanan pada nilai tukar dapat terjadi karena investor cenderung mengurangi exposure terhadap aset berisiko melalui mekanisme portfolio balancing, sehingga permintaan terhadap aset domestik menurun dan mata uang berpotensi terdepresiasi. “Akan tetapi, adanya depresiasi ini biasanya terbatas jika fundamental eksternal seperti cadangan devisa dan neraca pembayaran tetap terjaga,” imbuhnya. Sementara di pasar saham, perubahan outlook dapat mendorong aksi ambil untung investor asing dan meningkatkan volatilitas. Sementara itu, dampak paling sensitif biasanya terlihat pada pasar obligasi pemerintah, di mana outlook yang menurun dapat meningkatkan risk premium dan mendorong kenaikan imbal hasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *