Meningkatkan Kesehatan Mental dengan Berolahraga – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Meningkatkan Kesehatan Mental dengan Berolahraga Kepakaran 26 Februari 2026, 10.02 Oleh : gusti.grehenson Sekitar 280 juta orang di seluruh dunia mengalami depresi dan berkontribusi secara signifikan terhadap disabilitas. Pengobatan berbiaya rendah dan mudah diakses masyarakat terus diupayakan. Salah satunya dengan mempromosikan olahraga sebagai pilihan. Pasalnya, olahraga tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Lalu, olahraga seperti apa yang dapat disamakan dengan terapi psikologis? Pakar Fisiologi dan olahraga dari FK-KMK UGM, Dr. dr Zaenal Muttaqien Sofro, AIFM., mengatakan olahraga memang memiliki manfaat signifikan bagi kesehatan mental, tetapi harus dipahami sebagai intervensi medis yang terukur, bukan sekadar aktivitas fisik spontan. “Exercise is a medicine, artinya bisa dipandang sebagai obat juga, terutama penyakit yang bersifat physically dan bergantung pada jenis olahraganya juga,” ujarnya, Kamis (26/2) di Kampus UGM. Seperti halnya obat, lanjutnya, olahraga tidak bisa diberikan secara seragam kepada setiap orang. Ada prinsip kecocokan yang harus diperhatikan agar manfaatnya benar benar terasa. “Terdapat sebuah prinsip atau kecocokan ketika kita minum obat, yang mana yang cocok dengan tubuh kita maka itu yang manjur. Tidak asal olahraga yang dapat jadi terapi, terdapat syarat syarat yang harus dipenuhi, seperti status hidrasinya, kapan kita harus minum air,” jelasnya. Ia menambahkan waktu pelaksanaan juga berpengaruh. Olahraga idealnya dilakukan dua jam setelah makan agar tubuh berada dalam kondisi metabolik yang stabil. Dengan demikian, respons fisiologis yang muncul dapat lebih optimal dan aman. Menurutnya, manfaat olahraga tidak hanya terbatas pada kebugaran fisik. “Sehingga yang kita dapatkan dari olahraga itu tidak hanya fisiknya saja, melainkan prinsip holistik juga, bagaimana mentalnya, spiritualitas, dan social engagement,” tuturnya. Pada aspek spiritualitas, ia mengaitkannya dengan konsep 3C yakni Connection, Compassion, and Contribution. Artinya, olahraga dapat menjadi sarana membangun keterhubungan dengan diri sendiri dan orang lain, menumbuhkan empati, serta mendorong kontribusi sosial. Lebih jauh ia menjelaskan mekanisme biologis pada tubuh saat berolahraga dengan menggunakan analogi lampu lalu lintas. Melalui analogi tersebut, ia menjelaskan bahwa lampu kuning merupakan zona intensitas yang diharapkan saat berolahraga, yakni ketika sistem saraf simpatis aktif dan memicu respon fight or flight. Pada fase ini denyut jantung meningkat, aliran darah ke otot bertambah, dan cadangan energi dipecah untuk mendukung aktivitas fisik. Respons ini bukan tanda bahaya, melainkan mekanisme adaptif tubuh terhadap stresor yang terkontrol. Namun, ia mengingatkan bahwa jika intensitas melampaui batas kemampuan individu, kondisi dapat bergeser ke zona berisiko sehingga pemantauan denyut jantung dan kesadaran terhadap sinyal tubuh menjadi penting agar manfaat olahraga tetap optimal dan aman. “Tubuh kita yang merespon terhadap exercise itu ada tiga komponen seperti lampu traffic light, merah, hijau, kuning. Ketika kita olahraga maka yang terang lampu kuningnya yang dinamakan dengan respon fight or flight dan itu yang bekerja saraf simpatis,” paparnya. Ia melanjutkan bahwa di dalam tubuh terdapat suatu saraf yang disebut sebagai saraf simpatis. Saraf tersebut bekerja melalui proses katabolisme, yaitu membongkar cadangan energi yang selama ini tersimpan. “Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja dengan membongkar katabolisme, jadi membongkar cadangan energi yang ditimbun dan tidak digunakan,” jelasnya. Ketika olahraga dilakukan dengan intensitas yang tepat, tubuh tidak hanya mengalami adaptasi fisik, tetapi juga regulasi emosi. Aktivasi saraf simpatis melalui respons fight or flight yang terkontrol justru melatih tubuh menghadapi stres secara sehat. “Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja dengan membongkar katabolisme, jadi membongkar cadangan energi yang ditimbun dan tidak digunakan,” jelasnya. Menurutnya, di sinilah letak korelasi antara olahraga dan terapi mental. Respons biologis yang semula identik dengan stres, jika dikelola dalam batas aman, dapat menjadi sarana pelatihan adaptasi psikologis. Peningkatan adrenalin saat olahraga membantu tubuh belajar mengelola tekanan. Karena itu, intensitas perlu dijaga pada kisaran 60 hingga 80 persen denyut jantung maksimal agar tetap berada pada zona aerobik yang efektif tanpa memicu kelelahan berlebihan. Menurutnya olahraga yang dapat meningkatkan kesehatan mental hanyalah olahraga pace walking, jogging, bersepeda statis, berenang, senam aerobik. Tetapi, harus selalu dipertegas dengan
Meningkatkan Kesehatan Mental dengan Berolahraga
