Anak Gajah Sumatera Mati Kena Jerat, Dosen UGM Sebut Penggunaan Jerat Mengancam Kehidupan Satwa Liar – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Anak Gajah Sumatera Mati Kena Jerat, Dosen UGM Sebut Penggunaan Jerat Mengancam Kehidupan Satwa Liar Kepakaran 6 Maret 2026, 16.02 Oleh : gusti.grehenson Anak Gajah Sumatera ditemukan mati di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Kematian ini diduga akibat infeksi pada kaki depan karena terkena jerat. Bangkai gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) itu ditemukan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), tepatnya di Resort Lancang Kuning, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kamis (26/2) pukul 12.00 WIB. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo mengaku prihatin dengan matinya anak gajah di taman nasional akibat terkena jerat. Menurutnya, penggunaan jerat pada satwa liar merupakan ancaman kejam yang menyebabkan cedera fisik parah. Hal ini dapat menyebabkan kecacatan permanen, hingga kematian secara lambat akibat kelaparan, dehidrasi, atau infeksi bakteri pada hewan. Terlebih lagi pada anak gajah yang dapat berakibat lebih fatal. “Anak gajah masih kurang ketahanan tubuhnya dalam mempertahankan diri akibat kelaparan dan dehidrasi dibanding gajah dewasa,” jelasnya, Jumat (6/3). Menurutnya, jerat ini juga dapat memicu penurunan populasi drastis, mengganggu ekosistem, dan berisiko menularkan penyakit zoonosis karena infeksi bakteri. Untuk jangka panjang, anak gajah yang selamat sering mengalami penurunan kualitas kesehatan yang berdampak pada rendahnya tingkat keberhasilan reproduksi. Selain itu untuk anak gajah yang cacat dapat menyebabkan gangguan perilaku dan pergerakan dalam bersosialisasi dengan gajah yang lain.”Cacat fisik dapat menghambat kemampuan satwa untuk mencari makan, bergerak, dan menghindari predator yang mendorong mereka mengalami malnutrisi atau kekurangan pakan,” jelasnya. Dikatakan Wisnu, kematian anak gajah tersebeut diduga akibat oleh penggunaan jerat bersifat tidak selektif (indiscriminate), artinya alat ini dapat menangkap hewan apa pun yang melintas di sekitar jerat tersebut, sehingga bukan hanya target utama. Ia menegaskan bahwa penggunaan jerat tidak dapat membedakan spesies. “Masyarakat sering kali salah sasaran ketika memasang jerat yang menjerat satwaliar lain yang dilindungi, seperti harimau, gajah, beruang madu, atau orangutan,” paparnya. Wisnu menambahkan jika penggunaan bahan jerat berupa jerat kawat baja atau sling yang sangat kuat, dapat menangkap, melukai, hingga membunuh satwa liar berukuran besar maupun kecil. “Bila jerat ini tidak diperiksa dalam waktu lama atau ditinggalkan oleh pemasangnya namun tetap aktif, maka dapat membunuh satwa liar dan pemburu lain yang melewati daerah tersebut,” ungkapnya. Kasus kematian anak gajah di TN Tesso Nilo ini, menurut Wisnu dapat berdampak krusial terhadap keberlangsungan populasi lokal. Hilangnya satu individu muda dapat mengurangi potensi regenerasi kelompok, melemahkan struktur sosial populasi gajah, dan menekan populasi yang sudah terancam kritis akibat jerat dan hilangnya habitat. Ia menjelaskan bahwa kematian tersebut akan berdampak utama terhadap populasi lokal, misalnya seperti gangguan regenerasi populasi gajah. Pasalnya, anak gajah adalah masa depan kelompok populasi gajah. Dengan masa kehamilan panjang dan interval kelahiran 4-5 tahun, maka kematian anak gajah membuat pertumbuhan populasi sangat lambat atau mustahil. Kematian salah satu anak gajah menyebabkan dampak psikologis dan sosial pada kelompok gajah. Sebab, gajah merupakan satwa liar yang memiliki sifat sosial dengan ikatan kekeluargaan kuat. “Kematian anak dapat menyebabkan trauma pada induk dan kelompok, mengganggu struktur sosial,” ungkap Wisnu. Selain itu, ia menambahkan bahwa kematian akibat jerat atau konflik manusia-gajah di habitat dapat menunjukkan kerentanan yang tinggi terhadap perburuan dan alih fungsi lahan. Ia menjelaskan langkah-langkah medis yang harus dilakukan jika menemukan anak gajah yang terjerat. Menurutnya, hewan yang terkena jerat harus segera melaporkan segera ke petugas BBKSDA atau Polisi Hutan atau dokter hewan terdekat, dengan catatan tetap hati-hati dengan satwa liar lain. Penanganan selanjutnya dengan melihat kondisi fisiknya, bila diperlukan dapat dilakukan pembiusan (sedasi) oleh tim medis dokter hewan untuk melepaskan jerat, membersihkan luka infeksi, dan memberikan antibiotik/anti-inflamasi. Tindakan medis darurat hanya dapat dilakukan oleh dokter hewan mulai dari imobilisasi atau pemberian sedasi pembiusan dengan melihat posisi jerat untuk melepaskan jerat dengan aman. Pelepasan jerat dapat dilakukan dengan pemotongan kawat atau tali jerat dengan menggunakan tang
Anak Gajah Sumatera Mati Kena Jerat, Dosen UGM Sebut Penggunaan Jerat Mengancam Kehidupan Satwa Liar
