Dokter RSA UGM Bagikan Panduan Puasa Ramadan untuk Pasien Kanker – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Dokter RSA UGM Bagikan Panduan Puasa Ramadan untuk Pasien Kanker Kepakaran 23 Februari 2026, 13.05 Oleh : triya.andriyani Ramadan menjadi momen yang penuh makna bagi umat Muslim, termasuk bagi pasien yang tengah menjalani pengobatan kanker. Keinginan untuk tetap berpuasa kerap hadir sebagai bagian dari penguatan spiritual di tengah proses terapi. Namun kondisi medis dan daya tahan tubuh selama pengobatan sering kali menuntut pertimbangan yang matang. Terapi seperti kemoterapi dan radioterapi dapat memengaruhi asupan nutrisi, hidrasi, serta stamina harian. Karena itu, keputusan berpuasa perlu didasarkan pada evaluasi klinis yang menyeluruh. Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B., Subsp.Onk(K), menjelaskan bahwa keputusan berpuasa pada pasien kanker bersifat sangat individual. Ia menuturkan bahwa tidak semua pasien otomatis dilarang menjalankan puasa Ramadan. Penilaian medis perlu mempertimbangkan jenis kanker, stadium penyakit, status gizi, serta terapi yang sedang dijalani. Penyakit penyerta seperti diabetes, gangguan ginjal, atau masalah jantung turut menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. “Secara umum, boleh atau tidaknya sangat individual dan bergantung pada kondisi klinis masing-masing pasien,” ujarnya, Senin (23/2). Menurut Tomo, biasa ia dipanggil, prinsip utama dalam menentukan kelayakan berpuasa adalah memastikan tidak ada gangguan terhadap efektivitas terapi. Bila puasa berpotensi memperburuk kondisi atau menghambat proses pengobatan, maka sebaiknya ditunda. Ia menjelaskan bahwa keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan medis. Evaluasi menyeluruh sebelum Ramadan sangat dianjurkan agar pasien memahami risiko yang mungkin timbul. “Prinsipnya, jika puasa berpotensi mengganggu terapi atau memperburuk kondisi klinis, maka sebaiknya ditunda,” jelasnya. Lebih lanjut, Tomo menerangkan bahwa kemoterapi kerap menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, penurunan nafsu makan, hingga kelelahan berat. Risiko dehidrasi dan gangguan elektrolit juga dapat meningkat selama masa terapi. Dalam kondisi asupan cairan dan kalori yang terbatas, puasa bisa memperberat gejala tersebut. Pasien dengan status gizi kurang perlu mendapat perhatian khusus karena rentan mengalami penurunan berat badan lebih cepat. “Puasa dapat memperberat kondisi terutama bila asupan cairan kurang dan intake kalori tidak mencukupi,” tuturnya. Tomo menjelaskan radioterapi pun memiliki tantangan tersendiri tergantung lokasi penyinaran. Pada area kepala dan leher, pasien bisa mengalami nyeri menelan dan kesulitan makan. Penyinaran di area perut dapat memicu mual atau diare, sementara paparan di area luas sering menimbulkan fatigue berat. Dalam situasi seperti itu, pembatasan asupan selama puasa berisiko meningkatkan dehidrasi serta penurunan berat badan signifikan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kelanjutan terapi bila tidak ditangani dengan tepat. “Dalam kondisi seperti ini, puasa bisa meningkatkan risiko dehidrasi dan penurunan berat badan yang signifikan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ada kelompok pasien yang secara umum tidak dianjurkan berpuasa. Pasien dengan kanker stadium lanjut disertai kondisi umum yang buruk, cachexia, atau malnutrisi berat memerlukan perhatian khusus. Pasien yang menjalani kemoterapi intensif pada siklus awal atau mengalami komplikasi seperti infeksi berat dan gangguan ginjal juga perlu mempertimbangkan penundaan puasa. Keputusan tersebut bukan semata didasarkan pada stadium penyakit, melainkan pada daya tahan tubuh dan status klinis secara keseluruhan. “Bukan semata karena stadium, tetapi karena status klinis dan daya tahan tubuhnya,” tutur Tomo. Risiko yang dapat muncul bila pasien memaksakan diri berpuasa antara lain dehidrasi, hipoglikemia, gangguan elektrolit, hingga penurunan berat badan cepat. Fatigue berat dan perburukan fungsi ginjal juga dapat terjadi pada kondisi tertentu. Dalam beberapa kasus, ujar Tomo, gangguan tersebut dapat menyebabkan penundaan siklus terapi. Penundaan pengobatan berpotensi memengaruhi efektivitas penanganan kanker secara keseluruhan. “Pada beberapa kasus, ini bisa berdampak pada efektivitas pengobatan,” katanya. Meski demikian, pasien dengan kondisi stabil tetap memiliki peluang untuk berpuasa dengan pengawasan medis. Tomo menyarankan evaluasi klinis sebelum Ramadan dan konsultasi untuk penyesuaian jadwal obat. Asupan cairan minimal 1,5–2 liter antara berbuka hingga sahur dianjurkan bila kondisi memungkinkan, disertai makanan tinggi kalori dan protein. Pasien juga diperbolehkan menjalani pua
Dokter RSA UGM Bagikan Panduan Puasa Ramadan untuk Pasien Kanker
