Pasca Serangan AS dan Israel ke Iran, IIS UGM Desak Indonesia Keluar dari BoP – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaSeminar/Workshop Pasca Serangan AS dan Israel ke Iran, IIS UGM Desak Indonesia Keluar dari BoP Seminar/Workshop 5 Maret 2026, 09.23 Oleh : gusti.grehenson Serangan udara dan rudal yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran dalam operasi militer bersama yang disebut Operation Lion’s Roar. Serangan ini memicu balasan dari Iran yang melancarkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, dan negara sekutu di kawasan Teluk sebagai respons atas agresi tersebut. Merespon peran diplomasi Indonesia dalam konflik di Timur Tengah, Institute of International Studies (IIS), Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) Fisipol UGM, mengutuk agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Agresi militer yang dilakukan merupakan bentuk crime of aggression atau kejahatan agresi terhadap perdamaian karena dilakukan di tengah proses negosiasi Nuklir antara AS dan Iran. Agresi militer Israel dan AS menjadi ancaman nyata bagi distabilitas kawasan Timur Tengah dan potensi ekstasi perang yang lebih besar. “Sebagai warga negara, kami menuntut pemerintah Indonesia untuk mengutuk agresi militer AS dan Israel dan membawa persoalan ini ke PBB untuk memberikan sanksi tegas dan menyelesaikan persoalan secara adil,” ujar Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, Ririn Tri Nurhayati, S.IP., M.Si., M.A., Ph.D.,Ririn dalam keterangan yang dikirim Kamis (5/4). Merespon poin pertama tersebut, peneliti IIS UGM sekaligus aktivis internasional traktat larangan senjata nuklir, Muhadi Sugiono, MA., mengatakan bahwa harapan yang tersisa saat ini hanya rezim nuklir internasional, Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT). Tiga pilar utama NPT yaitu non-proliferasi, pelucutan senjata, dan tujuan damai. Pada keadaan agresi militer saat ini, Iran tidak lagi mendapat perlindungan dari perjanjian tersebut. “Jika AS dan NPT tidak menjamin keamanan mereka, satu-satunya cara adalah membangun senjata nuklir, dan Iran memiliki potensi tersebut. Jadi, proliferasi nuklir akan menjadi sangat signifikan,” ungkap Muhadi. Poin Kedua, IIS mendesak Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP). Adanya agresi militer menjadi refleksi kritis bagi keputusan Indonesia untuk bergabung dalam BoP. Hal ini karena dua anggota BoP yaitu AS dan Israel menjadi agresor yang menjadi ancaman bagi Indonesia. “Keterlibatan Indonesia dalam BoP bukan hanya gagal menguatkan peran diplomasi Indonesia, namun justru mengobarkan independensi kebijakan politik Indonesia. Oleh karena itu, kami menuntut Indonesia keluar dari BoP,” tutur Ririn. Berdasarkan poin kedua, Dosen HI lainnya Dr. Diah Kusumaningrum berpendapat bahwa BoP merupakan dewan perdamaian, tetapi pada kenyataannya yang diperlihatkan justru pertikaian. Menurutnya, Indonesia perlu melakukan evaluasi terhadap alasan yang diambil untuk bergabung dengan BoP. Pada situasi sekarang, keterlibatan Indonesia dalam BoP diartikan bahwa Indonesia tidak sejalan dengan nilai kebangsaan, nilai anti-kolonialisme, Dasasila Bandung, dan prinsip politik luar negeri. “Reputasi Indonesia untuk generasi mendatang, sejarah akan mencatat Indonesia menjadi bagian dari agresor apabila tetap bergabung dengan BoP,” kata Diah. Selanjutnya pada poin Ketiga, IIS mendesak agar Indonesia mengutamakan Solidaritas Selatan di tengah aksi unilateral brutal. Bukan sebaliknya justru merespon dinamika geopolitik dan tindak unilateral menjadi bagian dari kelompok aktivis. Seharusnya, Indonesia menguatkan kerja sama kawasan dan menggalang solidaritas negara-negara selatan. Komitmen Dasasila Bandung dapat menjadi dasar kedaulatan dan solidaritas negara-negara selatan sebagai identitas dan nilai dalam diplomasi Indonesia. Sejalan dengan komitmen dan prinsip tersebut, Dr. Randy Wirasta Nandyatama, peneliti IIS UGM lainnya turut menyampaikan bahwa prinsip kebijakan luar negeri yang sangat penting yaitu berbasis pada kondisi dan ide norma yang ada di dalam negara itu sendiri. Selama ini, nilai perjuangan yang selalu dibangun sejak kemerdekaan merupakan komitmen terhadap negara-negara selatan sebagai basis reputasi Indonesia di kancah Internasional. Hal ini menjadi elemen penting dalam membangun kredibilitas bangsa. “Untuk merealisasikan peran perdamaian, pemerintah harus aktif mencoba forum internasional yang menjadi pondasi untuk memperkuat pada kondisi politik saat ini,” papar Randy. Poin terakhir yaitu melawan personalisasi kebijakan luar negeri tanpa deliberasi bermakna dengan publik. Pasalnya, pemerintah Indonesia saat ini cenderung menunjukkan personalisasi pandangan Presiden dalam
Pasca Serangan AS dan Israel ke Iran, IIS UGM Desak Indonesia Keluar dari BoP
