Skandal Jeffrey Epstein, Dosen UGM Sebut Kejahatan Seksual Anak Sebabkan Trauma Berkepanjangan – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Skandal Jeffrey Epstein, Dosen UGM Sebut Kejahatan Seksual Anak Sebabkan Trauma Berkepanjangan Kepakaran 18 Februari 2026, 14.18 Oleh : gusti.grehenson Selama dua dekade terakhir, aparat kepolisian, jaksa federal, dan Federal Bureau of Investigation (FBI) menyelidiki berbagai tuduhan serius terhadap Jeffrey Epstein, seorang pemodal asal Amerika Serikat yang diduga terlibat dalam jaringan eksploitasi dan perdagangan seksual anak. Pada awal Februari lalu, publik kembali digemparkan dengan publikasi besar-besaran dokumen kejahatan seksual sistemik secara eksplisit yang dilakukan oleh lembaga penegak hukum Amerika Serikat, termasuk Departemen Kehakiman (DOJ). Psikolog Klinis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psikolog., menuturkan bahwa kejahatan sistemik ini merupakan kejahatan yang traumatis serta bekerja secara halus dan manipulatif sehingga korban tidak menyadari bahwa mereka tengah menjadi subjek eksploitasi. “Kejahatan sistemik ini sangat traumatis dan menekan bagi anak-anak. Memang benar, pada awalnya anak anak ini tidak menyadari jika mereka ternyata masuk ke dalam kasus kejahatan ini dan seiring waktu pasti ada perasaan ketidakberdayaan serta tertekan dalam waktu yang lama. Dengan demikian, munculah sebuah trauma yang berkepanjangan,” tuturnya, Senin (18/2). Bagi Gamayanti, keberanian korban untuk berbicara yang baru muncul setelah bertahun-tahun tidak lepas dari kondisi tekanan psikologis yang lama mereka alami. Situasi tersebut membuat sebagian korban kehilangan rasa harga diri, meragukan identitas diri, bahkan merasa tidak memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman mereka. Selain itu, pola pendekatan pelaku yang manipulatif kerap menciptakan ketergantungan emosional dan kelekatan tanpa disadari. Ketergantungan ini membuat korban takut kehilangan figur yang telah melekat dalam hidup mereka, sehingga dalam sejumlah kasus, kesadaran bahwa perlakuan tersebut merupakan bentuk kekerasan baru muncul ketika korban mulai memahami kembali identitas dan batas-batas dirinya. “Korban baru berani berbicara setelah bertahun-tahun karena mereka terlalu lama berada dalam tekanan psikologis, kehilangan harga diri, bahkan meragukan identitas dan hak untuk bersuara. Pelaku juga sering membangun ketergantungan emosional dan kelekatan tanpa disadari, sehingga korban takut kehilangan figur tersebut. Dalam banyak kasus, mereka baru menyadari bahwa itu adalah perlakuan yang salah ketika mulai memahami kembali identitas dirinya,” katanya. Perilaku eksploitatif yang dilakukan oleh para pria dewasa tersebut dikatakan oleh Gamayanti, memiliki korelasi terhadap pertumbuhan serta masa depan para korban. Dalam kacamata psikologis, pengalaman traumatis yang tidak ditangani secara tepat dapat membentuk pola perilaku dan dinamika yang kompleks. “Kalau mereka tidak segera mendapatkan penanganan psikologis yang baik dan perilaku itu terulang, bisa saja nanti ketika dewasa justru menjadi pelaku. Itu yang paling dikhawatirkan,” ungkapnya. Gamayanti menegaskan bahwa rantai-rantai traumatis tersebut perlu diputus melalui intervensi yang komprehensif. Baginya, trauma yang dialami oleh korban tidak hanya sebagai pengingat akan kejadian yang mengerikan, tetapi juga konflik batin yang tersimpan di alam bawah sadar. Lanjutnya, dinamika yang timbul saat mereka pada akhirnya menjadi seorang pelaku bukanlah dinamika mencontoh, tetapi suatu hal yang sudah mereka internalized ke alam bawah sadar yang tanpa disadari timbul menjadi sebuah perilaku tidak menyenangkan. “Dinamikanya bukan mencontoh, tetapi justru perlakuan yang tidak menyenangkan itu membuat konflik di dalam dirinya dan masuk ke alam bawah sadarnya. Di satu sisi dia tidak menyukainya, tetapi ternyata hal itu menjadi sesuatu dorongan yang tidak disadari, sehingga itu muncul kembali, “ jelasnya. Ia kembali memaparkan bahwa ketika pengalaman traumatis kembali diangkat ke ruang publik, korban dapat merasakan revictimization, yakni kondisi ketika peristiwa traumatis seolah terulang dan menempatkan para korban menjadi korban kembali. “Kalau bagi korban, apabila peristiwa tersebut diungkit kembali, itu seperti revictimize atau menjadi peristiwa yang seperti terulang kembali . Re-traumatize itu seolah-olah mereka mengalami kembali. Ini sesuatu yang berat untuk mereka,” paparnya Gamayanti menambahkan jika tidak semua korban memiliki kesiapan mental untuk menyampaikan pengalaman yang dialaminya secara terbuka. Perasaan memalukan maupun tekanan sosial dapat memperberat beban psikologis yang dirasakan oleh korban. “Bisa saja
Skandal Jeffrey Epstein, Dosen UGM Sebut Kejahatan Seksual Anak Sebabkan Trauma Berkepanjangan
