KPA EMC²

Catatan dibalik Bencana di Sumbar yang Sedang Terjadi…

Kita tidak pernah bisa menebak bencana apa yang akan datang. penyesalan dan kebingungan tentu akan mengahampiri ketika bencana itu terjadi. Sebagai manusia, evaluasi dan perbaikan diri akan menjadi alasan dengna harapan hal buruk yang sama tak terulang lagi…

Hampir setengah tahun terakhir, Sumatera Barat (Sumbar) selalu dilanda bencana alam. Semenjak Gn Marapi erupsi, dilanjutkan adanya korban jiwa, disusul banjiri besar di Pesisir selatan, longsor di Pasaman, hingga terakhir galodo di Agam, Tanah Datar dan Padang Pariaman. Belum lagi banjir sedang cenderung besar di Padang dan Pariaman.


Banyak hikmah yang bisa diambil dari musibah tersebut. Mulai dari perilaku manusia dengan alam, perencanaan infrastruktur yang kurang komprehensif hingga Hablumminallah. Namun tulisan ini khusus akan menyoroti soal bantuan langsung untuk korban bencana. Paska bencana, rasa solidaritas dan empati bangsa akan tersentak. Apalagi bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah dengan rasa solidaritas yang masih tinggi. Tidak terkecuali dengan musibah di Sumbar. Ratusan kelompok hingga pemerintah berlomba mengantarkan donasi ke lokasi bencana. Makanan instan dan pakaian layak pakai, salah duanya. Saking banyaknya, mie instan sampai memenuhi gudang di nagari2 yang tertimpa bencana. Bahkan, pakaian layak pakai sempat viral, karena banyak yang tercecer bahkan dibuang di lokasi bencana.


Tentu saja ada pro kontra soal ini. Kalau mie instan atau makanan instan lainnya mungkin masih bisa dimanfaatkan. Namun pakaian yang sudah tercecer, bahkan dibuang, tentu akan mubazir. Sementara dii pihak korban bencana, ada keluhan pakaian tersebut sudah rusak atau tidak layak pakai lagi. Tentu kondisi ini mesti menjadi perhatian dan pertimbangan donatur dan penggiat kemanusiaan lainnya, dimasa datang.


Terutama buat penggiat kemanusiaan, ada baiknya dipertimbangkan lagi untuk mengirimkan pakaian bekas ke lokasi bencana, walaupun masih layak pakai. Karena psikologis korban bencana sedang tidak baik-baik saja. Namun akan timbul pertanyaan berikut, bagaimana dengan donatur yang akan menyumbangkan pakaian bekas tersebut? Sebenarnya masih tetap bisa diterima. Namun dengan memodifikasi polanya maka kita bisa mengirim kan bantuan yang lebih dibutuhkan.


Misalnya, pengumpulan pakaian bekas layak pakai dilakukan saja sepanjang waktu. Kemudian dilakukan penyortiran dan di laundry. Sekali sebulan atau sekali tiga bulan dilakukan bazaar pakaian bekas layak pakai. Hasilnya yang berbentuk uang disimpan di kas lembaga dan digunakan sewaktu perlu aksi paska bencana. Namun tentu saja perihal ini harus diinformasikan dengan lengkap dan detail kepada donatur.


Terus, soal makanan instan. Memang, pilihan mie instan adalah yang paling efektif, praktis dan murah. Namun, tetap ada kejenuhan dipihak korban. Karena itu, lembaga penyalur donasi, sebaiknya memberdayakan UKM produsen makanan terdekat utk menyuplai makanan korban. Misalnya, utk kasus galodo kemarin, ada lembaga yang memesan rendang kepada UKM di bukit tinggi utk disalurkan ke korban. Ada juga yang menyediakan aneka lauk dari rumah makan yang dekat lokasi bencana. Tentu bantuan yang seperti ini langsung dimanfaatkan dan Insha allah sesuai lidah korban bencana.

Bagikan

LAMBANG

Lambang KPA EMC² adalah segitiga berada di tengah-tengah setengah lingkaran yang ada di atas dasar warna putih dengan sudut lancip di bawah dengan arti lambang menunjukkan kedudukan di FMIPA UNRI serta menunjukkan KPA EMC² berorientasi pada lingkungan dan kelestarian alam yang berbasiskan penelitian di dasari sebagai perwujudan dan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.