Pemerintah Diminta Antisipasi Dampak Ekonomi dan Ketahanan Energi dari Perang Iran

Pemerintah Diminta Antisipasi Dampak Ekonomi dan Ketahanan Energi dari Perang Iran – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaSeminar/Workshop Pemerintah Diminta Antisipasi Dampak Ekonomi dan Ketahanan Energi dari Perang Iran Seminar/Workshop 6 Maret 2026, 10.18 Oleh : triya.andriyani Eskalasi konflik antara Iran dan Israel kembali memunculkan kekhawatiran global karena berpotensi memicu ketidakstabilan geopolitik dan ekonomi dunia. Ketegangan meningkat setelah Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. Gangguan pada jalur perdagangan energi global tersebut memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak serta dampak lanjutan bagi perekonomian internasional. Isu tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan Diskusi Pojok Bulaksumur bertajuk ‘Dampak Perang Timur Tengah bagi Hubungan Diplomatik, Ancaman Resesi Global, dan Kelangkaan Energi’ yang berlangsung Kamis (5/3) di Gedung Pusat UGM. Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM, Prof. Siti Mutiah Setyawati, menjelaskan bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat memiliki akar sejarah panjang yang membentuk ketegangan hingga saat ini. Menurutnya, hubungan kedua negara telah mengalami berbagai fase konflik sejak Revolusi Iran tahun 1979 yang diikuti putusnya hubungan diplomatik dengan Barat. Siti berkata bahwa dinamika politik dan ideologi di Iran membuat hubungan dengan Amerika Serikat terus diwarnai ketegangan. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai narasi yang menggambarkan Iran sebagai ancaman keamanan internasional. “Sejak Revolusi Iran tahun 1979 hubungan Iran dengan Amerika Serikat terus berada dalam ketegangan dan berbagai narasi politik kemudian membentuk persepsi global terhadap Iran,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menyoroti keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace yang diprakarsai Amerika Serikat. Menurutnya, forum tersebut diklaim bertujuan mendorong perdamaian di Gaza, namun terdapat persoalan mendasar dalam komposisi keanggotaannya. Ia menjelaskan bahwa Palestina justru tidak dilibatkan dalam struktur forum yang mengklaim ingin menyelesaikan konflik di wilayah tersebut. Ia juga menilai keikutsertaan Indonesia berpotensi memunculkan persepsi keberpihakan dalam konflik Timur Tengah. “Mediator dalam konflik harus berada dalam posisi netral, sementara ketika Indonesia masuk dalam Board of Peace yang beranggotakan Amerika Serikat dan Israel maka akan sulit bagi pihak lain seperti Iran untuk menerima Indonesia sebagai penengah,” katanya. Dari sisi ekonomi global, dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Yudhistira Hendra Permana, Ph.D menjelaskan bahwa eskalasi konflik Iran–Israel memiliki implikasi besar terhadap stabilitas ekonomi internasional. Yudhistira berkata bahwa kenaikan harga minyak yang terjadi akibat ketegangan geopolitik dapat memicu tekanan inflasi di berbagai negara. Menurutnya, energi masih menjadi faktor produksi penting sehingga kenaikan harga minyak akan meningkatkan biaya produksi. Kondisi tersebut dapat memicu cost-push inflation yang berdampak pada berbagai sektor ekonomi. “Kenaikan harga energi akan mendorong cost-push inflation karena energi masih menjadi faktor produksi utama di banyak sektor,” tuturnya. Yudhistira menambahkan bahwa dampak gejolak geopolitik akan semakin terasa bagi negara dengan tingkat keterbukaan ekonomi tinggi. Menurutnya, Indonesia termasuk kategori small open economy yang sangat bergantung pada dinamika ekonomi global. Ia menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap impor energi serta hubungan perdagangan dengan negara besar membuat perekonomian nasional rentan terhadap guncangan eksternal. Selain inflasi, tekanan juga berpotensi muncul pada nilai tukar rupiah dan stabilitas perdagangan. “Indonesia adalah small open economy country yang sangat bergantung pada kondisi ekonomi global sehingga gejolak geopolitik seperti ini akan cepat memengaruhi inflasi dan nilai tukar,” katanya. Sementara itu, Dr. Rachmawan Budiarto dari Pusat Studi Energi UGM menyoroti potensi dampak konflik terhadap ketahanan energi. Ia menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz menimbulkan risiko terhadap pasokan energi global karena jalur tersebut dilalui sebagian besar distribusi minyak dunia. Menurutnya, situasi tersebut telah memengaruhi aktivitas pelayaran energi di kawasan tersebut. Rachmawan berujar bahwa ratusan kapal tanker harus menunggu karena situasi keamanan yang tidak menentu. “Ketika Selat Hormuz terganggu, ratusan kapal tanker harus menunggu dan hal ini langsung menimbulkan risiko terhadap ketersediaan energi global,” ujarnya. Menurut Rachmawan, kondisi tersebut menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Ia menjelaskan bahwa k

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *