Minat Belajar Bahasa Indonesia di Luar Negeri Menurun, Dosen UGM Dorong Optimalisasi Promosi Budaya dan Pariwisata 

Minat Belajar Bahasa Indonesia di Luar Negeri Menurun, Dosen UGM Dorong Optimalisasi Promosi Budaya dan Pariwisata  – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Minat Belajar Bahasa Indonesia di Luar Negeri Menurun, Dosen UGM Dorong Optimalisasi Promosi Budaya dan Pariwisata  Kepakaran 2 Maret 2026, 12.32 Oleh : gusti.grehenson  Merujuk pada laporan Konsorsium Australia untuk Studi Indonesia di Dalam Negeri (ACICIS), jumlah perguruan tinggi di Australia yang masih menyelenggarakan program Bahasa Indonesia pada 2023 tinggal 13 institusi, jauh berkurang dibandingkan sekitar 22 kampus dalam dua dekade terakhir. Di beberapa wilayah, eksistensi program ini bahkan sempat terancam hilang sepenuhnya di tingkat universitas ketika Universitas Tasmania mempertimbangkan penghentian pengajaran Bahasa Indonesia. Menanggapi hasil laporan ACICIS, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, Wira Kurniawati, S.S., M.A., menjelaskan bahwa merosotnya minat mempelajari Bahasa Indonesia dipicu oleh sejumlah faktor, baik yang berasal dari dinamika internal maupun eksternal di Australia, yang satu sama lain saling berkelindan. Baginya, peristiwa geopolotik di kedua negara, seperti peristiwa bom Bali serta pandemi COVID-19 menjadi salah satu pemicu. Selain itu, terdapat dinamika internal Australia, seperti dinamika politik, sistem migrasi, dan sumber daya manusia yang menguasai Bahasa Indonesia cukup terbatas. “Banyak juga sekolah-sekolah yang mulai menutup kelas bahasa Indonesia karena diawali dari permasalahan bom Bali dan COVID-19. Di Australia juga terdapat beberapa permasalahan internalnya seperti kondisi politiknya, sistem migrasi, dan sumber daya manusia yang menguasai Bahasa Indonesia terbatas,” ujarnya, pada Senin (2/3) di Kampus UGM. Wira menambahkan, peningkatan kemahiran masyarakat Indonesia dalam berbahasa Inggris turut memengaruhi urgensi warga Australia dalam belajar bahasa Indonesia. “Belum lagi, masyarakat Indonesia sudah mahir dalam berbahasa Inggris, sehingga urgensi mereka untuk belajar bahasa Indonesia tidaklah banyak,” tambahnya. Wira mengaku ada beberapa alasan bagi mahasiswa asing tertarik untuk mempelajari Bahasa Indonesia adalah karena ekonomi, pendidikan, adat istiadat, dan pariwisata. Menurutnya, penguasaan Bahasa Indonesia membuka peluang kerja sama bisnis dan investasi sekaligus memperluas akses berjejaring secara profesional. Pengakuan Bahasa Indonesia di sidang PBB pada tahun 2023 juga turut meningkatkan legitimasi dan daya tarik global, terkhususnya bagi mereka di bidang pendidikan dan penelitian. Selain itu, sektor pariwisata juga mengambil peran yang besar mengingat Indonesia dikenal sebagai destinasi wisata unggulan yang membuat banyak wisatawan terdorong mempelajari bahasanya demi memperkaya pengalaman selama berkunjung. “Mereka tertarik untuk pergi ke Bali, sehingga mereka pun berbondong-bondong untuk mempelajari Bahasa Indonesia,” kata Wira. Menurutnya, ada beberapa langkah yang bisa pemerintah dan diaspora lakukan untuk meningkatkan minat belajar Bahasa Indonesia di luar negeri. Beberapa diantaranya adalah, pengiriman tenaga pengajar ke luar negeri oleh kementerian sebagai bentuk penguatan sumber daya manusia dalam pengajaran Bahasa Indonesia, pemberian beasiswa Darmasiswa maupun fellowship bagi warga negara asing, dan peran perwakilan Indonesia di luar negeri seperti Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dalam membina hubungan dengan komunitas diaspora. Namun, ia mengakui sepertinya terdapat keterbatasan internal Australia dalam mendukung upaya ini. “Dulu beasiswa Darmasiswa itu masih cukup banyak. Tapi entah mengapa sekarang jumlahnya sedikit dan ini turut memengaruhi minat belajar Bahasa Indonesia,” tambahnya. Wira turut menilai bahwa sektor budaya dan pariwisata menjadi potensi terbesar yang dapat terus dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Ia menyebutkan kekayaan adat istiadat, tradisi, seni, hingga kuliner Indonesia dinilai memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat asing untuk mengenal bahasa sebagai pintu masuk memahami budaya secara lebih mendalam. Di sisi lain, pariwisata Indonesia yang terus berkembang membuka ruang interaksi langsung antara wisatawan mancanegara dan masyarakat lokal. Pengalaman tersebut kerap memunculkan ketertarikan untuk mempelajari Bahasa Indonesia, baik untuk kebutuhan komunikasi maupun sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya setempat. Oleh karena itu, optimalisasi promosi budaya dan pariwisata dapat menjadi strategi berkelanjutan dalam memperluas minat global terhadap Bahasa Indonesia. “Budaya dan pariwisata kita bermacam-macam sekali, jadi dari sana saya rasa bisa kita sama-sama membangun untuk meningkatkan potensinya,” pungkasnya. Penulis : Zabrina Kumara Edit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *