Gangguan Tidur Bisa Picu Masalah Emosi dan Penyakit, Kenali Jam Biologis Tubuh

Gangguan Tidur Bisa Picu Masalah Emosi dan Penyakit, Kenali Jam Biologis Tubuh – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Gangguan Tidur Bisa Picu Masalah Emosi dan Penyakit, Kenali Jam Biologis Tubuh Kepakaran 5 Maret 2026, 15.18 Oleh : gusti.grehenson Tidur bukan sekadar kebutuhan istirahat, melainkan fondasi keseimbangan sistem biologis dan kesehatan mental secara keseluruhan. Jika saat bangun merasa badan tidak segar, pegal-pegal, kepala terasa berat, mudah marah, atau mood tidak stabil, pertanda ada metabolisme terganggu dalam tubuh. Bila itu terjadi dalam jangka waktu yang lama maka bisa berdampak bagi seseorang akan lebih mudah mengalami jantung berdebar, sesak napas, mudah terinfeksi, kulit kusam, hingga penurunan daya tahan tubuh. Dokter Spesialis Kejiwaan dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FK-KMK UGM Dr. dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ., menjelaskan bahwa ketidaksinkronan jam biologis tubuh dapat berdampak pada emosi, metabolisme, hingga meningkatkan resiko penyakit fisik. Menurutnya, tubuh manusia memiliki “pusat pengatur” ritme biologis yang berfungsi menyinkronkan perubahan gelap dan terang dengan sistem hormon serta metabolisme. Saat sistem ini berjalan baik, tubuh mampu menyesuaikan diri secara alami. “Tubuh itu sebenarnya menyesuaikan. Tapi pada orang tertentu, pusat pengatur ini sudah mengalami gangguan sehingga ketika terjadi perubahan dari gelap ke terang atau sebaliknya, tubuh tidak bisa mengenali dan tidak sinkron. Disitulah masalah muncul,” jelasnya, Kamis (5/3). Lebih lanjut, Ronny menjelaskan bahwa secara umum dikenal dua kronotipe atau kecenderungan waktu tidur, yakni tipe lebih awal (earlier) dan tipe lebih malam (later). Kronotipe pagi cenderung tidur lebih awal, misalnya pukul 18.00–19.00, dan bangun lebih dini. Sementara kronotipe malam cenderung tidur pukul 23.00–00.00, bahkan ada yang baru produktif menjelang tengah malam. “Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Keduanya sama saja, selama tubuh masih bisa berkompensasi dan durasi tidur tetap terpenuhi sekitar 7 – 8 jam,” ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa bila seseorang tidak bisa tidur malam tanpa alasan pekerjaan atau aktivitas tertentu, dan baru bisa tidur menjelang pagi, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena bisa mengarah pada gangguan. Namun salah satu miskonsepsi yang sering terjadi adalah anggapan bahwa utang tidur bisa langsung diganti dalam satu waktu. Menurut Ronny, proses metabolisme tubuh tidak bekerja seperti itu. “Utang tidur tidak bisa langsung dibayar lunas. Metabolisme tubuh bekerja bertahap. Seperti luka yang butuh waktu sekitar dua minggu untuk pulih, kekurangan tidur juga perlu waktu untuk kembali seimbang,” terangnya. Jika kompensasi dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang, tubuh akan mengalami kelelahan organik. Dalam kondisi tersebut, respons tubuh bereaksi berlebihan karena stress fisiologis. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengalami jantung berdebar, sesak napas, mudah terinfeksi, kulit kusam, hingga penurunan daya tahan tubuh. Gangguan tidur menurut Ronny tidak hanya ditandai sulit terlelap. Oleh karena itu ia menekankan pentingnya memperhatikan kualitas bangun tidur. “Kalau bangun tidak segar, badan pegal, kepala terasa berat, mudah marah, atau mood tidak stabil, itu tanda ada sesuatu yang terganggu,” katanya. Dari sudut pandang psikiatri, gejala paling awal biasanya tampak pada emosi. Mood menjadi tidak stabil, mudah sedih, mudah marah, atau naik turun tanpa sebab jelas .Jika gangguan tidur berlangsung lama tanpa penanganan, risiko gangguan kesehatan meningkat, mulai dari ketidakstabilan emosi hingga gangguan fisik. “Kalau dilakukan jangka panjang, pasti berbahaya. Kecuali tubuh memang didesain sangat kuat, tapi kita tidak pernah tahu spesifikasi biologis tubuh kita sendiri,” ujarnya. Untuk menjaga kualitas tidur, Ronny menyarankan tiga hal yakni Pertama, menjaga pola makan seimbang sebab asupan bergizi dan waktu makan yang teratur membantu kestabilan metabolisme. Kedua, olahraga rutin minimal tiga kali seminggu dengan durasi seimbang untuk membantu regulasi tubuh. Ketiga, yang tidak kalah penting yakni regulasi emosi dan manajemen stress. “Stress itu pasti ada. Yang kita atur adalah respons terhadap emosi tersebut,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya sleep hygiene, termasuk mengenali pola tidur pribadi serta menghindari kebiasaan yang mengganggu kualitas istirahat. Ronny mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak menyepelekan gangguan tidur. Tidur bukan sekadar kebutuhan istirahat, melainkan bagian penting dari keseimbangan sistem biologis dan kesehatan mental. Penulis : Jelita Agustine Editor : Gusti Grehenson Foto : Freepik Tags: Gangguan Tidur SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 11: Ko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *