Degradasi Habitat dan Perburuan Liar jadi Ancaman Populasi Komodo 

Degradasi Habitat dan Perburuan Liar jadi Ancaman Populasi Komodo  – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Degradasi Habitat dan Perburuan Liar jadi Ancaman Populasi Komodo  Kepakaran 10 Maret 2026, 10.54 Oleh : gusti.grehenson Komodo sebagai spesies kadal terbesar di dunia dengan sebaran terbatas (endemik) di Indonesia yang juga dilindungi, kian hari populasinya semakin terancam. Populasi komodo saat ini diperkirakan sebanyak 3.319 ekor. Hewan langka ini terancam tak hanya dari perburuan liar, dan predator alami, namun juga karena perubahan iklim dan juga habitatnya yang makin lama makin menyusut. Tercatat sebanyak 58 persen habitat komodo berada di daerah Area Penggunaan Lain (APL), atau di luar kawasan hutan.  Oleh karena itu, perlindungan terhadap satwa komodo ini melalui penambahan lokasi habitat pun secara tidak langsung juga berdampak pada populasi spesies kunci lainnya, yakni kakatua kecil jambul kuning. Dosen Biologi Universitas Gadjah Mada sekaligus pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc., mengungkapkan bahwa sebetulnya keberadaan Taman Nasional Komodo merupakan solusi guna mengurangi tekanan komodo akibat habitat yang terdegradasi. Namun, masalahnya persebaran komodo sebenarnya tidak hanya di Pulau Komodo, namun juga berada di Pulau Rinca dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, serta di daratan utama Pulau Flores bagian utara. “Tekanan akibat habitat yang terdegradasi terutama di mainland Flores bagian utara, “ jelasnya Selasa (10/3) di Kampus UGM. Menurutnya, perburuan liar menjadi ancaman bagi keberadaan populasi komodo. Untuk mengurangi perburuan liar, menurut Dona ada beberapa solusi, di antaranya seperti penambahan staf polhut BKSDA, terutama di mainland Flores bagian utara, guna menjaga populasi komodo, penegakan hukum yang tegas, tidak hanya pihak pemburu tetapi juga pembeli hasil buruan, serta adanya program breeding yang dilakukan oleh pemerintah mungkin melalui Kementerian Kehutanan atau BKSDA. Hasil breeding bisa diperjualbelikan secara resmi dan terbatas, dengan sertifikat resmi memperhatikan mekanisme CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). “Dengan demikian, para kolektor hewan akan memilih jalur resmi, karena terdapat jalur resmi yang disediakan,” ujarnya. Selanjutnya, ada pun tantangan lain yang kerap dialami untuk menjaga habitat ini adalah kurangnya jumlah personil dan anggaran dalam menjaga kawasan dan kegiatan konservasi. Selain itu kurang sejahteranya warga Pulau Rinca dan Pulau Komodo secara umum menjadi alasan perburuan liar masih dilanggengkan. “Jika warga Pulau Rinca dan Pulau Komodo sejahtera, maka mereka akan dengan senang hati membantu pemerintah dalam menjaga kelestarian komodo,” imbuhnya. Ia pun menambahkan jika personil penjaga kawasan jumlahnya sesuai dengan luas kawasan, dan ada anggaran konservasi dari pemerintah dan warga lokal sejahtera, maka upaya konservasi komodo akan terwujud. Warga lokal akan tahu mana pendatang yang akan mencuri komodo dan mana yang tidak, karena warga lokal berada di kawasan sekitar konservasi setiap saat. Selanjutnya, warga lokal dapat segera melapor ke pihak berwenang segera jika menemukan kejanggalan yang ada. Perihal Area Penggunaan Lain (APL) di habitat, Donan mengungkapkan bahwa hal ini rumit, karen kesejahteraan manusia atau warga dan itu memang janji pemerintah. Oleh karena itu, ia menyarankan area inti kawasan konservasi diperluas dan wilayah konservasi secara umum ditambah. Disamping itu, Pemerintah dan pihak terkait harus bersinergi dalam menjaga dan melestarikan komodo, terutama populasinya. Menurutnya peran yang dapat dilakukan pemerintah yaitu mengeluarkan aturan atau kebijakan baru terkait perlindungan kawasan atau habitat komodo terutama di mainland Flores, penyediaan kerja sama dan anggaran oleh pemerintah untuk kegiatan perlindungan dan kawasan baru tersebut, serta kontribusi pihak terkait dan masyarakat sebagai ujung tombak di lapangan guna perlindungan kawasan atau habitat baru tersebut. Donan menilai peran pemerintah melalui Taman Nasional di kawasan konservasi sudah sangat baik dalam menjaga kelestarian dan populasi komodo. Namun, diperlukan peran lebih lanjut pemerintah daerah di mainland Flores guna menjaga habitat komodo. “Perlu ditentukan luasan habitat baru komodo di mainland Flores, terutama di sisi utara, agar perbedaan genetik antar populasi komodo di mainland dan kepulauan tetap terjaga,” pesannya. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson Foto : Freepik Tags: Konservasi Komodo Satwa Liar SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan SDG 15: Ekosistem Daratan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDGs Berita Terkait Antisipasi Kemarau Panjang, Petani Perlu Mitigasi Risik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *