Indonesia Bergabung di Board of Peace: Langkah Visioner atau Ujian Kredibilitas? – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Indonesia Bergabung di Board of Peace: Langkah Visioner atau Ujian Kredibilitas? Kepakaran 3 Maret 2026, 11.41 Oleh : triya.andriyani Di tengah perdebatan mengenai Agreement on Reciprocal Trade (ART) dan kedaulatan ekonomi, perhatian publik juga tertuju pada langkah Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BOP) yang diprakarsai Amerika Serikat. Keputusan tersebut beriringan dengan eskalasi konflik Iran–Israel yang memicu ketegangan global. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi politik luar negeri Indonesia yang selama ini berlandaskan prinsip bebas aktif. Dalam konteks inilah dua Guru Besar Universitas Gadjah Mada menilai pentingnya membaca ulang arah kebijakan luar negeri dan dampaknya bagi kepentingan nasional. Guru Besar Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, Prof. Dafri Agussalim, menilai dampak konflik dan keanggotaan Indonesia di BOP sangat luas bagi posisi Indonesia. Menurutnya, persepsi internasional terhadap Indonesia dapat berubah ketika keputusan politik diambil di tengah situasi konflik terbuka. Dafri menjelaskan bahwa langkah bergabung ke BOP beriringan dengan serangan yang terjadi, sehingga memunculkan tafsir keberpihakan. “Masuk perangkap Trump dan Israel melalui keanggotaan kita di BOP itu, jadi begitu kita masuk, tiba-tiba Israel menyerang, tamparan yang keras bagi politik luar negeri kita,” ujarnya, Senin (2/3). Menurut Dafri, posisi Indonesia sebagai negara non-blok menjadi dipertanyakan di mata dunia. Ia mengungkapkan bahwa kredibilitas sebagai mediator menuntut jarak yang jelas dari pihak-pihak yang berkonflik. Dalam teori resolusi konflik, mediator harus dipandang netral dan memiliki reputasi yang kuat agar dipercaya kedua belah pihak. “Setidaknya kita sudah meninggalkan posisi dasar kita sebagai negara non-alignment,” tegasnya. Dafri kemudian menyoroti proses pengambilan kebijakan luar negeri yang dinilainya terlalu terpusat. Ia menjelaskan bahwa kebijakan strategis cenderung bertumpu pada keputusan presiden sebagai aktor dominan, sementara peran kementerian dan kajian akademik belum optimal dilibatkan. Menurutnya, kebijakan strategis seharusnya melalui kajian akademik dan berbasis data yang kuat sebelum diputuskan. Dafri menekankan bahwa pendekatan evidence-based policy menjadi kunci agar keputusan tidak bersifat intuitif semata. “Saya berkali-kali menyampaikan pentingnya evidence-based policy,” ungkapnya. Dari dimensi geopolitik tersebut, dampaknya merembet ke ranah ekonomi nasional. Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Prof. Agus Sartono, melihat konflik Iran–Israel berpotensi memicu tekanan serius pada sektor energi. Menurutnya, lonjakan harga minyak akan berdampak langsung pada biaya transportasi dan produksi. “Yang pertama yang harus kita antisipasi adalah supply bahan bakar minyak, karena implikasinya panjang sekali,” tuturnya. Agus menjelaskan bahwa dampak ekonomi mungkin belum terasa saat ini karena kontrak impor energi dilakukan untuk beberapa bulan ke depan. Namun, dalam tiga hingga enam bulan, tekanan harga dapat mulai memengaruhi struktur biaya di berbagai sektor. Menurutnya, kenaikan biaya produksi berpotensi menekan dunia usaha dan memicu gangguan ekspor-impor. “Sekarang belum terasa, tapi tiga bulan yang akan datang mungkin akan terasa,” jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa ketergantungan Indonesia pada impor barang konsumsi dan energi memperbesar risiko ketika terjadi gejolak global. Agus mengungkapkan perlunya diversifikasi pasar ekspor dan penguatan daya tahan ekonomi domestik. Tanpa strategi mitigasi yang matang, tekanan eksternal dapat berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan stabilitas fiskal. “Kita harus mendiversifikasi pasar ekspor supaya tidak tergantung pada satu negara lagi,” katanya. Dari uraian geopolitik hingga ekonomi, kedua akademisi tersebut menggarisbawahi pentingnya kehati-hatian dalam membaca dinamika global. Keputusan politik luar negeri dan respons terhadap konflik internasional berkelindan dengan stabilitas ekonomi nasional. Dalam situasi penuh ketidakpastian, konsistensi prinsip bebas aktif dan penguatan fondasi ekonomi menjadi krusial. Momentum ini menjadi pengingat bahwa kedaulatan nasional kini tengah menghadapi ujian dari perjanjian dagang serta dinamika geopolitik yang terus berubah. Penulis: Triya Andriyani Foto: CNN World Tags: amerika serikat BOP feb ugm FISIPOL UGM indonesia SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan SDG 15: Ekosistem Daratan SDG 16: Perdamaian SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Berita Terkait Ketiadaan Sertifikasi Halal dan Pajak, P
Indonesia Bergabung di Board of Peace: Langkah Visioner atau Ujian Kredibilitas?
