Kebijakan Keliru dan Antikritik, Indonesia Tengah Menghadapi Krisis Berlapis – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaSeminar/Workshop Kebijakan Keliru dan Antikritik, Indonesia Tengah Menghadapi Krisis Berlapis Seminar/Workshop 27 Februari 2026, 11.14 Oleh : gusti.grehenson Indonesia saat ini disinyalir sedang menghadapi krisis berlapis seperti ekonomi, politik, dan demokrasi yang ditandai dengan guncangan kebebasan sipil dan menyempitnya ruang kedaulatan. Bahkan marginalisasi terasa dalam relasi ekonomi-politik global merupakan akibat dari hegemoni dan dominasi rezim yang menciptakan ketergantungan struktural. Di satu sisi, kedaulatan bangsa menyusut akibat kebijakan yang keliru, sementara di sisi lain kritik masyarakat sipil justru kerap dicurigai sebagai kepentingan asing. “Kondisi ini tidak bisa dianggap remeh karena sesungguhnya kita akan bisa menilai dan mendiagnosa tengah berada di level krisis itu,” kata Sosiolog UGM Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., dalam Orasi Epistemologi bertajuk “Kebebasan Epistemik sebagai Pilar Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” Kamis, (26/2), di University Club UGM. Arie juga menyoroti kemerosotan ruang publik yang kian dipenuhi pergunjingan dangkal dan wacana tidak bermutu, sementara persoalan fundamental seperti kerusakan lingkungan, pelanggaran HAM, dan ketimpangan sosial justru terpinggirkan. Ia menilai kondisi ini sebagai diskursus yang “makin kumuh” dan perlu diinterupsi melalui peran kampus sebagai elemen penting masyarakat sipil. Lebih lanjut, ia menyerukan perlunya “radical break” atau dekonstruksi radikal terhadap epistemologi gerakan pasca-reformasi. Refleksi ini, menurutnya, bukan untuk meromantisasi masa lalu reformasi 1998, melainkan untuk membaca capaian dan kemerosotan demokrasi yang terjadi selama lebih dari dua dekade. “Ada kenyataan paradoks gerakan masyarakat sipil dan sisi semakin militan melawan tren otokrasi, tetapi di sisi lain perilaku kekuasaan semakin tebal terhadap kritik publik,” sebutnya. Arie mengingatkan bahwa liberalisme politik kerap dijadikan satu-satunya panglima tanpa perimbangan lebih jauh. Oleh karena itu, akademisi dan aktivis publik hendaknya tetap bersikap kritis, baik terhadap propaganda imperial global maupun terhadap oligarki nasional yang berpotensi memecah belah persatuan rakyat. Ia menekankan pentingnya melipatgandakan gerakan emansipasi politik rakyat. Disamping itu, Arie juga menyoroti bahaya ketergantungan internasional yang kian menguat dan mendikte kebijakan nasional. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi teguran keras agar bangsa ini kembali membicarakan secara serius kebebasan, demokrasi, otonomi, dan kedaulatan dalam praktik nyata, bukan sekadar retorika mimbar. Di akhir orasinya, Arie menegaskan bahwa kebebasan epistemik lahir dari pengetahuan sejarah, membaca sistem kapitalisme dan imperialisme yang terus bermutasi. Ia menyebutkan sebagaimana cita-cita era Soekarno yang merdeka bukan hanya fisik, tetapi juga pengetahuan. Ia berharap perjuangan bisa mencapai demokrasi substansial yang ditandai oleh kebebasan menyampaikan sesuatu. “Cara kita menghargai sejarah dan menilai hari ini secara kritis agar generasi yang akan datang tidak menyalahkan karena kegagalan dan tidak tanggung jawabnya generasi hari ini,” katanya penuh harap. Bagi Arie, kebebasan berpendapat di era sekarang ini bukan sekadar kebebasan akademik formal, melainkan ruang bagi lahirnya subjek yang kreatif, cerdas, dan mandiri. Pengetahuan bukan hanya akumulasi teori, tetapi hasil tempaan pergulatan hidup yang mengandung nilai dan makna. Dengan kemampuan survival, bangsa akan bisa berdikari membebaskan diri dari paksaan, eksploitasi, dan bentuk penjajahan baru. Mewakili suara anak muda, Panji Dafa Amrtajaya dari Forum 2045 menyampaikan kemerdekaan epistemik bukan sekadar dikotomi antara pengetahuan Barat dan lokal, melainkan pengakuan terhadap pengetahuan yang lahir dari pengalaman hidup, relasi ekologis, dan praktik komunal. “Seperti pengalaman petani membaca cuaca, nelayan melihat mata angin, atau komunitas adat menjaga hutan tidak dihitung selain sekadar data,” tuturnya. Ketua Dewan Guru Besar UGM Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., yang mengingatkan pentingnya membangun kembali akar budaya keilmuan dan kearifan lokal sebagai pondasi mencerdaskan kehidupan bangsa. “Karena jelas dengan digital world akan mengubah banyak pola sistem dan juga kultur yang ada di bangsa kita,” imbuhnya. Sedangkan Dekan Fakultas Filsafat UGM Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., menambahkan bahwa kemunduran demokrasi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari melemahnya kapasitas kritis universitas. Ia menyoroti kolonialitas baru dalam pendidikan tinggi melalui neoliberalisme kampus, platformisasi pendidikan, serta ekspansi AI yang berpot
Kebijakan Keliru dan Antikritik, Indonesia Tengah Menghadapi Krisis Berlapis
