Kedai Kopi Menjamur, Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Belum Sejalan

Kedai Kopi Menjamur, Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Belum Sejalan – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Kedai Kopi Menjamur, Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Belum Sejalan Kepakaran 12 Maret 2026, 11.59 Oleh : gusti.grehenson Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Sepanjang 2021-2025, Kementan RI mencatat Indonesia menghasilkan rata-rata 782,30 juta ton kopi dengan hampir semua laju pertumbuhan provinsi mengalami peningkatan. Sementara menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kopi Indonesia pada tahun 2025 mencapai US$1,87 miliar, naik 81,08% dari tahun 2024. Beberapa negara yang rutin menjadi target ekspor kopi Indonesia sejak 2024 di antaranya Amerika Serikat yang meraup 18,77% dari total ekspor, dilanjut Mesir (8,70%), Malaysia (7,96%), dan Belgia (7,06%). Tepat pada tanggal 11 Maret diperingati sebagai hari kopi nasional. Peringatan ini bertujuan untuk mengapresiasi petani kopi lokal, mempromosikan keberagaman kopi Nusantara, dan meningkatkan kesejahteraan industri kopi. Meski menjadi negara penghasil kopi terbesar di dunia, namun kesejahteraan petani kopi belum meningkat sepenuhnya. Hal itu disebabkan produktivitas perkebunan kopi yang masih rendah dan hasil panen dijual ke tengkulak dengan kualitas biji yang fluktuatif . Guru Besar Bidang Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Prof. Dr. Ir. Supriyadi, M.Sc., mengatakan hanya sekitar 75% wilayah perkebunan kopi yang dapat diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, sisanya tidak dalam kondisi produktif dan mengalami kerusakan. “Terdapat 10% kerusakan lahan perkebunan kopi di Indonesia yang masih rusak. Selain kuantitas, tentu kualitas biji kopi yang fluktuatif,” kata Supriyadi, Kamis (12/3) di Kampus UGM. Produktivitas yang belum meningkat diakui Supriyadi disebabkan  petani kopi saat ini masih berorientasi pada kecepatan proses panen sehingga mendorong perubahan kualitas biji kopi. “Nah itu di problema ya, tantangan di situ,” ungkap Supriyadi. Untuk menjawab tantangan tersebut, Supriyadi menjelaskan bahwa petani harus menggandeng pihak-pihak pengusaha kopi atau industri perkebunan. Agar kualitas kopi di Indonesia tetap terjaga, menurutnya perlu adanya proses fermentasi. Bentuk fermentasi ini dapat dilakukan dengan cara pendampingan pada petani yang konsisten. Selain itu, Supriyadi menilai penjagaan kualitas kopi dapat dilakukan dengan melakukan inovasi. “Dari kopi yang kasarannya itu kalau menurut saya di bawah 80. Dengan inovasi kami melalui proses tambahan akan meningkatkan skornya menjadi di atas 82-84,” jelas Supriyadi. Inovasi yang dapat dikembangkan untuk tetap meningkatkan kualitas kopi di Indonesia adalah dengan cara blending yaitu metode mencampur dua atau lebih jenis kopi untuk menciptakan rasa yang unik. Supriyadi membeberkan inovasi unik yang pernah ia temui, yaitu Kopi Tahlil. Inovasi kopi ini berasal dari Pekalongan yang mencampurkan kopi dengan sebelas rempah-rempah. Menurutnya inovasi semacam itu dapat menjadi alternatif untuk dapat menikmati sajian kopi yang berbeda. “Kita berinovasi untuk menghasilkan kopi dengan seduhan yang unik,” ungkap Supriyadi. Ia menilai perkembangan kopi dalam 10 tahun terakhir banyak melakukan ekspansi pada penanaman sekaligus meningkatnya jumlah konsumsi. Apalagi tren minum kopi di kota-kota besar turut mendorong hadirnya ribuan kedai kopi di Indonesia. “Nah harapannya dalam waktu 1-2 tahun lagi dapat mencapai lebih dari 11 ribu kedai kopi. Ini kan suatu potensi yang sangat besar sekali,” ungkap Supriyadi . Sebagai penutup, Supriyadi berharap jika kedepannya petani kopi dapat meningkat kesejahteraannya dan kopi dapat dinikmati semua kalangan. Ia berharap agar para produsen kopi dari Indonesia terus melakukan inovasi dan promosi. “Ayo bersama-sama melakukan inovasi untuk mendapatkan rasa yang spesifik,” pungkasnya. Penulis : Fatihah Salwa Rasyid Editor   : Gusti Grehenson Foto      : Majalah Hortus Tags: Kedai Kopi Petani Kopi SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi SDGs Berita Terkait Mengungkap Sejarah Supersemar, Penyerahan Kekuasaan atau Perintah yang Diselewengkan 11 Maret 2026 Antisipasi Kemarau Panjang, Petani Perlu Mitigasi Risiko Gagal Tanam dan Panen 10 Maret 2026 Perlindungan Hari Tua Berbasis Pensiun Masih Minim 10 Maret 2026 Berita Terbaru Kedai Kopi Menjamur, Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Belum Sejalan 12 Maret 2026 UGM Lantik 33 Dietisien Baru, Penjaga Gizi Masyarakat di Tengah Ancaman Obesitas Global 11 Maret 2026 Mengungkap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *