Membangun Identitas Perempuan Lewat Karya Sastra

Membangun Identitas Perempuan Lewat Karya Sastra – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaSeminar/Workshop Membangun Identitas Perempuan Lewat Karya Sastra Seminar/Workshop 2 Maret 2026, 12.02 Oleh : gusti.grehenson Sejak dulu, perempuan kerap disingkirkan dari akses-akses menuju pemberdayaan. Seperti sengaja disembunyikan, sejarah seakan tidak mampu merekam jejak para perempuan berdaya. Peradaban seakan takut dan tidak siap membaca karya yang lahir dari jemari lentik, atau sekadar mendengar suara nyaring perempuan. Hal ini tentu mempengaruhi kepercayaan diri para perempuan yang lahir di zaman yang lebih modern. Sastrawan dan sosiolog, Okky Madasari, memaparkan di era sekarang ini, ilmu pengetahuan sudah menjadi hak bagi seluruh lapisan, namun beberapa kelompok masih berjuang meraih kesetaraan. Hal itu melatarbelakangi dirinya selalu mengangkat perempuan sebagai tokoh utama pada berbagai bukunya, karena perempuan akan selalu menjadi yang tersisihkan atau setidaknya kerap mendapatkan stereotip atas pilihan-pilihan yang mereka ambil untuk diri mereka sendiri. “Memang tidak semua menggambarkan perempuan sebagai protagonis, karena saya ingin menggunakan karya untuk memotret ketidakadilan, ketimpangan, dan ketiadaan akses untuk bisa memilih,” kata penulis novel Entrok ini dalam Talkshow Woman Inspiring Talk, rangkaian grand events Ramadhan Di Kampus UGM 1447 H di GIK UGM, Jumat (27/2) lalu. Menurut Alumnus UGM ini, seringkali perempuan memilih di bawah keterpaksaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya agar perempuan dapat memilih, dan pilihan tersebut bukan lahir dari represi dan keterpaksaan. Berbeda dengan Okky yang berasal dari latar belakang sosiologi, Sasti Gotama memilih merangkai aksara untuk menyuarakan pengalaman perempuan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), para pasien dan keluarga mereka semasa ia mengabdi menjadi dokter. “Di daerah tepi dengan ekonomi lemah, saya kerap melihat ketimpangan itu. Banyak sekali pasien kekerasan dalam rumah tangga yang datang dengan trauma, bahkan tidak berani untuk mengutarakan trauma-traumanya karena tekanan dari lingkungan sekitar, sehingga mereka cenderung memilih untuk memendam daripada menceritakan,” ujar penulis novel Ingatan Ikan-Ikan ini. Bagi Sasti, seringkali kemiskinan menjadi landasan, memaksa para orang tua menikahkan anaknya lebih dini karena faktor ekonomi, “ Lebih baik menghabiskan beras di rumah orang lain daripada di rumah mereka sendiri,” imbuh Sasti. Berbicara tentang hak memilih perempuan memang erat hubungannya dengan represi dan tekanan. Apalagi, represi dapat datang dari mana saja, dari sosial media, dari mereka yang mengaku memiliki intelektualitas dan moralitas tinggi, hingga dari orang-orang terdekat. Berangkat dari sinilah, Okky dan Sasti sepakat untuk menjadikan menulis sebagai wadah bagi perempuan untuk berekspresi dan memberikan pandangannya. Sepanjang karir keduanya dalam dunia sastra, ketika pengalaman dan pandangan itu disuarakan melalui karya, banyak pembaca perempuan yang setuju dan merasa terwakilkan. Sebaliknya, mereka mengatakan jika perempuan langsung menyuarakan, justru tidak jarang akan menuai tekanan dengan norma dan dogma, bahkan mendapat labelisasi tanpa investigasi secara menyeluruh. Perempuan jangan sampai kehilangan identitas. Menulis adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh setiap perempuan. Menulis adalah salah satu cara untuk membantu perempuan menemukan identitas diri mereka, sebuah seni untuk menentukan pilihan sesuai panggilan hatinya. Terlebih, menulis dapat membuka akses menuju pemberdayaan dan beragam pengalaman baru. Sudah saatnya setiap perempuan diberikan hak untuk memilih dan melahirkan karya-karya hebat dengan rahim dan tangan yang mereka miliki. Penulis : Ika Agustine Editor : Gusti Grehenson Foto : Freepik dan Dok. Panitia RDK UGM Tags: Identitas Perempuan Karya Satra SDG 1: Tanpa Kemiskinan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 5: Kesetaraan Gender SDGs Berita Terkait Kebijakan Keliru dan Antikritik, Indonesia Tengah Menghadapi Krisis Berlapis  27 Februari 2026 Disinformasi Menyebar Lebih Cepat Dibandingkan Klarifikasi Fakta  19 Februari 2026 Perkuat Riset Polar, UGM dan Kemenlu RI Dorong Kerja Sama Internasional di Wilayah Kutub 12 Februari 2026 Berita Terbaru UGM Kritisi Perjanjian ART Indonesia-AS 2 Maret 2026 UGM Resmikan Balai Desa di Aceh Utara, Tandai Penguatan Pemulihan Pascabencana 2 Maret 2026 Polemik Pengabdian Penerima Beasiswa, LPDP Diminta Benahi Tata Kelola  2 Maret 2026 Minat Belajar Bahasa Indonesia di Luar Negeri Menurun, Dosen UGM Dorong Optimalisasi Promosi Budaya dan Pariwisata  2 Maret 2026 Membangun Identitas Perempuan Lewat Kar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *