Menangkap Perubahan Besar dalam Masyarakat, Generasi Z Lebih Kritis Terhadap Isu Sosial Politik 

Menangkap Perubahan Besar dalam Masyarakat, Generasi Z Lebih Kritis Terhadap Isu Sosial Politik  – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Menangkap Perubahan Besar dalam Masyarakat, Generasi Z Lebih Kritis Terhadap Isu Sosial Politik  Kepakaran 26 Februari 2026, 12.38 Oleh : gusti.grehenson Fenomena tren generasi muda ikut berpartisipasi melakukan aksi protes atas kondisi bangsanya kian meningkat. Mereka umumnya para generasi Z melakukan kritik tajam seputar isu-isu sosial ekonomi, ketidaksetaraan, korupsi, dan nepotisme. Seperti halnya yang dilakukan oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto. mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap melanggar konstitusi karena mengorbankan anggaran pendidikan yang mencapai lebih dari Rp 200 triliun. Dosen Fakultas Psikologi UGM, Dr. Wenty Marina Minza, M.A., menilai meningkatkan sikap kritis anak muda merupakan hal yang lumrah. Pasalnya perubahan besar dalam sebuah masyarakat seringkali diprakarsai oleh generasi muda. Sebab pada masa periode usia produktif ini terjadi perkembangan pesat, baik perkembangan kognitif, moral dan sosial. “Kondisi ini membuat mereka menjadi lebih sensitif terhadap isu di sekitar, sekaligus mulai mempertanyakan otoritas, keadilan, dan etika,” jelasnya, Kamis (26/2). Lebih lanjut Wenty menjelaskan fenomena ini terjadi karena terdapat faktor dari relasi kuasa. Secara sosial, kondisi status quo adalah kondisi yang memberi kenyamanan bagi generasi yang lebih tua, tapi belum tentu nyaman bagi generasi muda. Proses reproduksi kultural, terutama proses reproduksi yang menolak nilai-nilai atau tata cara generasi lama, menjadi alasan utama perubahan. “Karena itulah, berbagai protes yang terjadi merupakan bagian dari upaya generasi muda untuk beraksi menolak sistem yang dibangun oleh generasi tua,” terangnya. Wenty menilai bahwa kaum muda banyak melakukan protes disebabkan oleh adanya kondisi “krisis” yang terjadi, baik secara sosial, ekonomi, kultural dan politik, memiliki pengaruh nyata bagi kehidupan kaum muda. Menurutnya, saat ini secara jelas ada banyak isu di Indonesia yang memiliki pengaruh pada kehidupan generasi muda baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, penggunaan anggaran negara untuk berbagai program yang masih dipertanyakan implementasi maupun hasilnya. Sebaliknya respon negara yang sering tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat, penanganan negara yang tidak jelas atas kondisi darurat kebencanaan, dan persoalan lainnya. Wenty menambahkan, salah satu isu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan generasi muda adalah isu yang berkaitan dengan kesempatan untuk mendapatkan penghidupan atau livelihood yang memadai. Penghidupan di sini tidak hanya meliputi akses ke pasar kerja, yang memang menurutnya dewasa ini makin sulit ditembus oleh generasi muda, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan yang dipertanyakan arah dan kualitasnya. Di luar itu, generasi muda masih mendapat banyak tekanan untuk menjalani transisi normatif, seperti soal pekerjaan dan pernikahan  “tepat waktu”. “Bagaimana generasi muda dapat menjalani transisi normatif dalam kondisi seperti ini?” tanyanya. Kemudahan akses informasi, terutama melalui sosial media mendorong publik semakin aware dengan beragam isu yang sedang terjadi. Menurut Wenty “protes kolektif” yang disampaikan generasi muda melalui media sosial dapat memicu seseorang untuk menjadi bagian dari aksi protes tersebut. Dengan sosial media, generasi muda melancarkan aktivisme politik. “Selain lebih aman secara fisik dibandingkan dengan aksi protes seperti demonstrasi, media sosial juga memberi lebih banyak kemudahan bagi generasi muda untuk menyampaikan pendapatnya,” jelasnya. Menurut Wenty, aktivisme politik akan berdampak positif atau tidak tergantung pada bagaimana adaptasi generasi muda terhadap proses dan dampak dari aktivisme politik tersebut. Bagi generasi muda, aktivisme politik bukan hanya tentang “protes” terhadap sebuah sistem atau kebijakan, tetapi aktivisme politik juga bisa dimaknai sebagai arena untuk belajar, berteman, dan berjejaring. Selain itu, aktivisme politik juga bisa dilihat sebagai media untuk bersuara. Akan tetapi, menurutnya aktivisme politik juga memiliki berbagai risiko bagi kesehatan mental. “Aktivisme politik memiliki risiko, salah satunya mendapatkan tekanan dari berbagai pihak, baik dari pihak yang diprotes, atau dari sesama pengguna social media,” paparnya. Sebagai penutup, Wenty menjelaskan bahwa kondisi sosial politik yang mengecewakan dapat berdampak pada sisi psikologis. Ia menyebut gejala psikologis yang bisa muncul misalnya perasaan distrust, sedih, tidak berdaya, malu, dan sebagainya. Biasanya, kekecewaan politik juga akan menghasilkan pe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *