Mengembalikan Kejayaan Masjid Raya Bandung Lewat Literasi Keuangan Syariah

Mengembalikan Kejayaan Masjid Raya Bandung Lewat Literasi Keuangan Syariah | Sains Indonesia Masuk IkutLaporan UtamaPertanian dan PerikananMaritimPariwisataHankamKesehatanPendidikanKolomLifestyleLingkungan dan KehutananEnergiGeraiSurat Dari Redaksi Masuk SELAMAT DATANG!Masuk ke akun Andanama penggunakata sandi Anda Lupa kata sandi Anda? Buat sebuah akun Daftar SELAMAT DATANG!Mendaftar membuat akunemail Andanama pengguna Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda. Pemulihan passwordMemulihkan kata sandi andaemail Anda Cari Jumat, Februari 13, 2026Masuk / BergabungBerlangganan MasukSelamat Datang! Masuk ke akun Andanama penggunakata sandi Anda Lupa Password? Klik Bantuan Buat sebuah akunBuat sebuah akunSelamat datang! daftar untuk akunemail Andanama pengguna Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda.Pemulihan passwordMemulihkan kata sandi andaemail Anda Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda. Sains Indonesia Laporan UtamaPertanian dan PerikananMaritimPariwisataHankamKesehatanPendidikanKolomLifestyleLingkungan dan KehutananEnergiGeraiSurat Dari Redaksi Beranda Pendidikan Ekonomi Mengembalikan Kejayaan Masjid Raya Bandung Lewat Literasi Keuangan SyariahPendidikanEkonomikabar terkiniliputan khususMengembalikan Kejayaan Masjid Raya Bandung Lewat Literasi Keuangan SyariahPelatihan keuangan syariah di Masjid Raya Bandung menjadi langkah awal untuk menggambarkan sinergi antara nilai-nilai keagamaan dan kebutuhan kekinian, yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa.Penulis Faris Sabilar R – 08/08/20250135BagikanFacebook Twitter Pinterest WhatsApp Sains Indonesia, Bandung – Di antara gemuruh pembangunan kota dan geliat ekonomi modern, Masjid Raya Bandung berdiri sebagai saksi bisu masa lalu sekaligus harapan masa depan. Berlokasi di Jalan Dalem Kaum, masjid megah yang merupakan wakaf mendiang Wiranatakusumah ke-4 ini kini tengah menghadapi tantangan besar. Atapnya bocor di beberapa titik, lingkungan sekitarnya kurang terjaga, dan aktivitasnya tidak seramai masa lalu. Namun tekad kuat datang dari Roedy Mulyadi Wiranatakusumah, Nazhir Masjid sekaligus putra leluhur wakaf yang berusaha mengembalikan marwah masjid kebanggaan warga Bandung.“Masjid Raya Bandung ini bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga bagian dari jati diri masyarakat Bandung yang harus dijaga dan dikembangkan,” ujar Roedy di tengah acara “Pelatihan Profesi Keuangan Syariah” yang digelar di Aula Masjid Raya Bandung lantai 2 pada Kamis (7/8). Roedy, yang terpilih sejak April 2025 dan merupakan salah satu dari sembilan Nazhir yang mengelola Masjid Raya Bandung, menegaskan akan memperbaiki segala aspek mulai dari infrastruktur hingga pengelolaan masjid agar bisa menjadi pusat aktivitas umat yang hidup dan berkembang.Pelatihan tersebut bukan sekadar momentum perehapan fisik masjid, tetapi juga simbol komitmen Masjid Raya Bandung dalam mendukung pengembangan literasi dan edukasi keuangan syariah di Jawa Barat. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam industri keuangan syariah. Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi generasi muda usia 18 hingga 24 tahun untuk belajar dan menjadi motor penggerak ekonomi syariah di masa depan.Narasumber acara, Dr. Iwan Pontjowinoto, pendiri Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), mencermati bahwa keberlanjutan dan manfaat sistem keuangan syariah tidak terletak pada sistemnya yang memang sudah terbukti, melainkan pada cara penerapannya. “Kalau manfaatnya belum terasa di masyarakat, kita harus evaluasi pemahaman kita. Banyak pelaku usaha yang hanya menjadikan akad syariah sebagai label kosmetik, tanpa memahami hakikat muamalah,” katanya tegas.Dr. Iwan memberikan contoh nyata berupa praktik akad murabahah yang kerap disamakan dengan sistem bunga bank konvensional, yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip syariah. Pendekatan syariah seharusnya lebih dari sekadar formalitas, melainkan sebagai amal sosial yang berdampak langsung pada kehidupan umat. “Ekonomi syariah, seperti makanan halal, bukan sesuatu yang eksklusif. Bisa diakses, dibuat, dan dijalankan siapa saja sepanjang sesuai aturan,” tambahnya.Kegiatan “Pelatihan Profesi Keuangan Syariah” yang digelar di Aula Masjid Raya Bandung lantai 2 pada Kamis (7/8). Hadir sebagai narasumber, Dr. Iwan Pontjowinoto, pendiri Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Foto: Faris SRDr. Iwan Pontjowinoto mencermati bahwa keberlanjutan dan manfaat sistem keuangan syariah tidak terletak pada sistemnya yang memang sudah terbukti, melainkan pada cara penerapannya. Foto: Faris SRPemerhati keuangan syariah, Ir Setiabudi Djaelani, yang bertindak sebagai moderator, menegaskan pentingnya peran masjid sebagai pusat pemberdayaan umat, bukan hanya wilayah ibadah semata. “Masjid harus menjadi ruang pengorganisasian ekonomi umat berbasis komunitas, juga tempat bertumbuhnya literasi yang memperkuat syiar Islam,” tuturnya. Ia berharap para peserta pelatihan yang terdiri dari kalangan akademisi dan praktisi ini mampu membawa pemahaman keuangan syariah ke komunitasnya masing-masing.Secara umum, kegiatan ini menyentuh persoalan mendasar dalam literasi keuangan syariah di Indonesia yang selama ini masih menghadapi tantangan besar, mulai dari pemahaman konsep hingga pembedaannya dengan keuangan konvensional. Melalui pendekatan yang otoritatif dan relevan dengan kondisi masyarakat, Masjid Raya Bandung mencoba memperlihatkan model pengembangan ekonomi syariah yang tidak hanya operasional, tetapi juga berkelanjutan dan inklusif.Dalam visi Roedy, masjid kedepannya tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga menjadi lokomotif penggerak sosial ekonomi umat yang berkeadilan. Ia yakin, dengan pengelolaan wakaf yang optimal oleh para Nazhir, Masjid Raya Bandung yang telah hadir sejak awal 1800-an ini akan kembali menjadi pusat kehidupan spiritual dan ekonomi yang membanggakan. “Pelatihan Profesi Keuangan Syariah adalah salah satu program dari beberapa program yang kami selenggarakan untuk umat,” jelas Roedy.Kembalinya kejayaan Masjid Raya Bandung dengan wajah baru—bersih, kokoh, dan penuh aktivitas produktif—bukan hanya harapan warga Bandung semata, melainkan juga cermin semangat nasional dalam membangun ekonomi syariah yang berlandaskan kepedulian dan keadilan sosial. Pelatihan keuangan syariah hari ini adalah langkah awal yang menggambarkan sinergi antara nilai-nilai keagamaan dan kebutuhan kekinian, yang produknya bukan sekadar teori, melainkan manfaat nyata bagi pembangunan umat dan bangsa.Peserta kegiatan “Pelatihan Profesi Keuangan Syariah” yang digelar di Aula Masjid Raya Bandung lantai 2 pada Kamis (7/8) berfoto bersama narasumber, moderator, dan nazhir Masjid Raya Bandung.Duduk dari kiri ke kanan: Roedy Mulyadi Wiranatakusumah, Nazhir Masjid Raya Bandung; Dr. Iwan Pontjowinoto, pendiri Masyarakat Ekonomi Syariah (MES); dan Ir Setiabudi Djaelani, pemerhati keuangan syariah.TOPIK#Keuangan_SyariahBagikanFacebook Twitter Pinterest WhatsApp Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *