Mengubah Kecemasan Menjadi Energi Positif – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaAlumni Mengubah Kecemasan Menjadi Energi Positif Alumni 13 April 2026, 15.50 Oleh : triya.andriyani Di tengah derasnya arus informasi global soal konflik di kawasan Timur Tengah, ancaman PHK, hingga menurunnya kemampuan daya beli, turut menjadi salah satu pemicu yang memengaruhi kondisis psikologis seseorang. Salah satu yang kerap muncul adalah kecemasan personal yang dipicu oleh perkembangan situasi global. Konflik yang terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari perlahan memengaruhi cara individu memandang dunia. Bahkan paparan informasi yang terus mengalir membuat sebagian orang merasa kondisi dunia semakin tidak menentu. “Saat ini saya banyak menangani kecemasan yang muncul seiring konflik global, dan masyarakat secara tidak langsung terkondisikan untuk percaya bahwa dunia ini semakin tidak baik-baik saja,” ungkap Psikolog lulusan UGM, Pamela Andari Priyudha, M.Psi., Psikolog,nya, Senin (13/4). Lulusan Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada pada 2016 silam ini mengaku dalam praktik psikolog di platform kesehatan mental ibunda.id, ia berhadapan dengan beragam cerita mulai dari kecemasan personal hingga tekanan akibat situasi eksternal Menurut Pamela, paparan berita negatif yang berulang memicu respons emosional yang cukup intens. Dalam banyak kasus, muncul ketegangan fisik dan emosional sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan buruk di masa depan. Kondisi ini sering muncul pada individu dengan pengalaman hidup traumatis. Tubuh meningkatkan kewasapadaan sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri. “Paparan informasi negatif secara terus menerus ini bisa memunculkan acute anticipatory stress atau stres antisipatif, di mana tubuh bersiap untuk menghadapi sesuatu yang belum terjadi,” katanya. Jika berlangsung terus-menerus, tekanan psikologis dapat berkembang menjadi kecemasan yang lebih luas. Pamela menuturkan, berbagai isu seperti ancaman konflik, ketidakpastian ekonomi, hingga berkurangnya lapangan pekerjaan memperkuat rasa tidak aman. Informasi yang tidak dikelola dengan baik akan memperbesar risiko munculnya kecemasan kolektif. Individu sering kali kesulitan membedakan antara ancaman nyata dan kemungkinan yang dibayangkan. “Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi stress berkepanjangan yang memicu kecemasan bahkan depresi secara kolektif,” jelas Pamela. Dari Tekanan Menuju Pertumbuhan Psikologis Di balik tekanan emosional, Pamela melihat adanya peluang individu untuk bertumbuh. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk mengubah stres menjadi dorongan yang lebih adaptif. Dengan pengelolaan emosi yang tepat, tekanan dapat diarahkan menjadi energi positif. Konsep ini dikenal sebagai post-traumatic growth atau pertumbuhan pasca trauma. “Manusia dibekali kemampuan untuk mengubah stres menjadi eustress yang mendorong pertumbuhan diri dan peningkatan kualitas hidup,” tuturnya. Post-traumatic growth menggambarkan perubahan psikologis positif yang muncul setelah seseorang berhasil melewati pengalaman yang menekan. Pamela menuturkan proses ini melibatkan perjuangan kognitif dan perenungan mendalam dalam menerima realitas. Namun tidak semua individu mengalami pertumbuhan ini, bahkan sebagian dapat mengalami gangguan seperti Post-traumatic stress disorder (PTSD). Dalam beberapa kasus, pertumbuhan dan luka psikologis dapat muncul secara bersamaan. “Post-traumatic growth bukan sekadar pulih, tetapi berkembang ke arah kualitas hidup yang lebih baik dari sebelumnya,” jelasnya. Dalam praktiknya, Pamela menjumpai berbagai contoh individu yang mampu bertumbuh setelah menghadapi tekanan emosional. Salah satunya dialami oleh individu yang kerasa cemas setelah mendengar kabar pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran. Kecemasan meningkat ketika rekan kerja mulai mengalami pemutusan kerja satu per satu. Kondisi ini memicu gejala fisik seperti mual, serangan panik, hingga tekanan untuk terus tampil optimal yang berujung pada kelelahan. “ Setelah mendapatkan bantuan psikologis, klien saya mulai memahami dirinya, menyusun kembali visi hidup, dan mempersiapkan langkah karier yang lebih sesuai,” paparnya. Lebih lanjut, kemampuan untuk mencapai post-traumatic growth, menurut Pamela, dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Ketangguhan individu menjadi fondasi dalam menghadapi tekanan. Selain itu, karakter seperti optimisme, keterbukaan, dan kecerdasan emosional membantu proses pemaknaan pengalaman. Dukungan informasi dan lingkungan yang tepat turut memperkuat kemampuan individu dalam menghadapi situasi sulit. “Cara seseorang memaknai pengalaman dan proses berpikir dalam memahami situasi sangat menentukan apakah ia dapat bertumbuh,” ungkapnya. Sebagai p
Mengubah Kecemasan Menjadi Energi Positif
