Pemuda Adat dan Modernitas: Bagaimana Dinamika Membawa Mereka ke Masa Depan yang Luhur? | Sains Indonesia Masuk IkutLaporan UtamaPertanian dan PerikananMaritimPariwisataHankamKesehatanPendidikanKolomLifestyleLingkungan dan KehutananEnergiGeraiSurat Dari Redaksi Masuk SELAMAT DATANG!Masuk ke akun Andanama penggunakata sandi Anda Lupa kata sandi Anda? Buat sebuah akun Daftar SELAMAT DATANG!Mendaftar membuat akunemail Andanama pengguna Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda. Pemulihan passwordMemulihkan kata sandi andaemail Anda Cari Jumat, Februari 13, 2026Masuk / BergabungBerlangganan MasukSelamat Datang! Masuk ke akun Andanama penggunakata sandi Anda Lupa Password? Klik Bantuan Buat sebuah akunBuat sebuah akunSelamat datang! daftar untuk akunemail Andanama pengguna Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda.Pemulihan passwordMemulihkan kata sandi andaemail Anda Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda. Sains Indonesia Laporan UtamaPertanian dan PerikananMaritimPariwisataHankamKesehatanPendidikanKolomLifestyleLingkungan dan KehutananEnergiGeraiSurat Dari Redaksi Beranda kabar terkini Pemuda Adat dan Modernitas: Bagaimana Dinamika Membawa Mereka ke Masa Depan yang…kabar terkiniLingkungan dan KehutananPendidikanPemuda Adat dan Modernitas: Bagaimana Dinamika Membawa Mereka ke Masa Depan yang Luhur? Generasi muda adat, sebagai pewaris budaya sekaligus agen perubahan, kini berdiri di persimpangan antara melestarikan warisan leluhur dan menyesuaikan diri dengan dinamika zaman.Penulis Faris Sabilar R – 21/02/20250271BagikanFacebook Twitter Pinterest WhatsApp Sains Indonesia, Depok (17/02) – Di tengah laju modernisasi yang kian tak terbendung, masyarakat adat di Indonesia mengahadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas, tradisi, dan hak-hak mereka. Generasi muda adat, sebagai pewaris budaya sekaligus agen perubahan, kini berdiri di persimpangan antara melestarikan warisan leluhur dan menyesuaikan diri dengan dinamika zaman. Untuk membahas isu krusial ini, Program Studi Sarjana Departemen Antropologi Sosial Universitas Indonesia bekerja sama dengan Badan Registrasi Wilayah Adat baru saja menggelar diskusi interaktif dengan mengangkat tema “Peran dan Aspirasi Pemuda Adat Menghadapi Tantangan Masa Depan“. Diskusi yang berlangsung di Auditorium Mochtar Riady, FISIP UI ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang termasuk, komunitas adat, aktivis, dan akademisi yang membahas tentang peran generasi muda adat dalam menghadapi tantangan dinamika sosial, politik, dan lingkungan yang terus berubah sesuai perkembangan zaman. Dalam konteks Indonesia yang memiliki beragam etnis yang tersebar di berbagai wilayah, keberadaan pemuda adat menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan budaya sekaligus memperjuangkan hak atas tanah, sumber daya alam, dan kebijakan inklusif. Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang dialog, tatapi juga ruang refleksi khususnya generasi muda untuk memahami kompleksitas yang dihadapi pemuda adat di tengah arus globalisasi dan kebijakan pembangunan yang seringkali mengabaikan suara mereka.Salah satu sorotan utama diskusi adalah bagaimana pemuda adat berupaya mempertahankan eksistensi komunitas mereka di tengah ancaman industri. Kynan Tegar, perwakilan pemuda Dayak Iban, menegaskan bahwa melestarikan budaya dan memperjuangkan hak tanah adat adalah dua sisi yang tak terpisahkan dalam perjuangan mereka. Sementara itu, Cindy Yohana dari Sekretariat Nasional Barisan Pemuda Adat Nusantara menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Dipandu oleh dosen Antropologi UI, Alberta Christina Pertiwi, acara ini diikuti oleh ratusan peserta baik secara langsung maupun daring melalui platform Zoom, mencerminkan antusiasme tinggi terhadap isu yang diangkat. Lebih dari sekadar diskusi akademik, forum ini menjadi panggilan untuk bertindak, mengajak semua pihak merenungkan bagaimana tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan demi masa depan yang lebih adil bagi masyarakat adat Indonesia.Kynan Tegar seorang pemuda adat dari suku Dayak Iban sedang memberikan pendapat dan pengalaman (17/02/2025).Kynan, seorang pemuda adat dari suku Dayak Iban di Sui Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kynan, yang saat ini menempuh studi di Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, dikenal juga sebagai pembuat film dokumenter yang mengangkat perjuangan masyarakat adat Sui Utik melawan industri ekstraksi yang berusaha mencaplok wilayah mereka. Dalam talkshow tersebut dibuka oleh video dokumenter yang dibuat olehnya berjudul Earth Defender. Video tersebut menceritakan bagaimana masyarakat sui utik yang ratusan tahun telah menganggap hutan dan segala isinya sebagai sumber kehidupan harus dihadapkan oleh fenomena industri ekstraksi yang mengancam kehidupan mereka.Dalam kesempatan tersebut, Kynan juga menyampaikan perjalanan dan dilema yang kerap dialami oleh pemuda adat. Ia mengungkapkan bagaimana di lingkungan urban, khususnya di Jawa, terdapat ekspektasi romantis yang kerap kali membebani pemuda adat. Ekspektasi tersebut menuntut agar seorang pemuda adat harus menguasai seluruh pengetahuan tradisional, menghindari penggunaan teknologi modern, dan selalu mempertahankan perilaku yang sepenuhnya tradisional. Perspektif tersebut, menurut Kynan, seringkali bertolak belakang dengan realitas yang ia alami sebagai seorang pemuda yang juga menuntut ilmu dan menggeluti dunia dokumenter serta advokasi isu-isu adat.Lebih jauh, Kynan membagikan pengalaman pribadinya dalam menavigasi peran ganda sebagai agen pelestarian budaya sekaligus advokat di tingkat nasional dan global. Di satu sisi, keberadaannya di luar wilayah adat memberikannya peluang untuk menyuarakan aspirasi masyarakat adat ke panggung yang lebih luas. Di sisi lain, ekspektasi agar pemuda adat kembali ke desa dan langsung membangun lembaga adat sebagai simbol pelestarian budaya menimbulkan dilema tersendiri. Menurutnya, kedua peran tersebut tidaklah harus dipisahkan secara mutlak, melainkan dapat saling melengkapi. Kynan kemudian melanjutkan bahwa “Kenapa harus ada dua jalan yang bercabang secara adat atau sesuai yang dianggap modern seolah kita harus memilih dua hal itu, kenapa kita tidak memiliki pilihan untuk memiliki dua-duanya? Kenapa konsepsi tentang adat dianggap sebagai sesuatu yang harus jauh dari duniawi?” Ia menekankan bahwa kehadiran pemuda adat yang memiliki akses pendidikan modern dan teknologi dapat membawa inovasi yang mendukung pembangunan komunitas, sekaligus mengukuhkan akar budaya melalui kearifan lokal.Kynan juga mengajak para hadirin untuk melihat bahwa tantangan identitas yang dihadapi oleh pemuda adat bukan semata-mata sebuah kontradiksi antara tradisi dan modernitas, melainkan sebuah kesempatan untuk menciptakan sinergi antara dua dunia yang selama ini dianggap bertolak belakang.peserta MBKM-RIMBAHARI tahun 2024 sedang membagikan pengalaman sebelumnya (17/02/2025).Sel
Pemuda Adat dan Modernitas: Bagaimana Dinamika Membawa Mereka ke Masa Depan yang Luhur?
