Sosiolog UGM: Demokrasi Kita Sedang Tidak Baik-baik Saja – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Sosiolog UGM: Demokrasi Kita Sedang Tidak Baik-baik Saja Kepakaran 22 Februari 2026, 22.35 Oleh : gusti.grehenson Kondisi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Selain dilanda konflik, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, hingga terjadinya kemunduran nilai-nilai kemanusiaan. Situasi tersebut berisiko melahirkan dehumanisasi masyarakat global akibat dominasi kepentingan ekonomi-politik global. “Dunia tengah menghadapi krisis ekonomi dan perang dengan segala risiko dehumanisasi. Praktik-praktik penghancuran kemanusiaan itu terjadi,” ujar Sosiolog UGM, Arie Sujito dalam Safari Ilmu di Bulan Ramadhan RDK UGM, Rabu (18/2) lalu. Menurut Arie, krisis global turut berdampak pada kondisi nasional, termasuk melemahnya etika publik, meningkatnya pragmatisme, serta menurunnya penghargaan terhadap nilai kemanusiaan. Ia juga menyinggung persoalan demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan seperti korupsi, ketimpangan, dan lemahnya tata kelola kebijakan publik. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi memperburuk krisis sosial jika tidak diimbangi dengan penguatan nilai keadaban dan tanggung jawab negara. “Demokrasi kita tidak sedang baik-baik saja. Politik hukum kita tidak sedang menjadi model yang dapat diharapkan. Karena itu kita harus memperkuat nilai toleransi, saling menghargai perbedaan, dan membangun tanggung jawab sosial,” tuturnya Perkembangan teknologi digital saat ini turut memberikan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi, kemajuan teknologi informasi membuka akses pengetahuan, mempercepat komunikasi, dan memperkuat konektivitas. Menurutnya, mahasiswa memiliki peluang besar dalam memanfaatkan ruang digital sebagai sarana belajar serta berbagi gagasan. Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahwa ruang digital juga berpotensi melahirkan fragmentasi sosial, polarisasi politik, hingga penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. Arus informasi yang cepat tanpa disertai kedewasaan literasi dapat memperkeruh ruang publik dan melemahkan etika bermedia. Ia menekankan bahwa kebebasan dalam ruang digital bukanlah kebebasan tanpa tanggung jawab. “Kebebasan digital itu harus digunakan untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk memperkuat konflik sosial,” ujarnya. Ia menilai bahwa tantangan terbesar generasi muda bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan membangun kebajikan warga negara (civic virtue) di tengah derasnya arus informasi. Tanpa landasan etika dan kesadaran sosial, teknologi justru dapat memperdalam jurang perbedaan dan memperkuat sentimen sempit. “Yang harus kita lakukan adalah upaya-upaya edukasi, upaya-upaya pencegahan, serta membangun sistem yang kuat,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sumber daya manusia di Indonesia perlu diposisikan sebagai subjek pembangunan. Adanya dukungan pendidikan merupakan prioritas penting yang harus dijalankan secara humanis. Tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pasar, tetapi juga harus membentuk karakter, kesadaran sosial, serta nilai kemanusiaan. Ia juga menambahkan bahwa kecerdasan tidak cukup diukur dari capaian angka akademik semata. Ia menekankan pentingnya integritas dan rekam jejak moral dalam membangun manusia Indonesia yang unggul dan berkeadaban. “Kecerdasan seseorang bukan hanya semata-mata diukur dari angka yang muncul, tetapi adalah karakter jejak di belakang itu,” katanya. Menutup refleksinya, ia mengajak mahasiswa membangun sumber daya manusia yang unggul dengan memadukan kecakapan teknologi dan integritas moral. Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup tanpa komitmen pada nilai kemanusiaan dan kemartabatan bangsa. Ia menekankan bahwa ilmu yang kita dapatkan jangan hanya berhenti pada ruang kelas atau diskusi akademik, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang membebaskan dan memberdayakan. Menurut Arie, momen Ramadan saat ini dapat menjadi momentum penting dalam merefleksikan sekaligus menggerakan aksi sosial berbasis pengetahuan. “Orang yang tidak tahu harus membuat kita tahu. Orang yang tahu menjadi sadar, orang yang sadar menjadi bergerak. Itulah yang disebut dengan praksis menjadikan pengetahuan sebagai modal advokasi,” tutup Arie. Penulis : Cyntia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Freepik Tags: demokrasi SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Kuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDGs Berita Terkait Menjadikan Masjid Sebagai Perekat Kohesi Sosial 22 Februari 2026 Sinkhole Muncul di Sumbar dan Gunungkidul, Ketahui Penyebab dan Tanda Alam Menyertainya 20 Februari 2026 Kapasitas PLTS Atap Pribadi
Sosiolog UGM: Demokrasi Kita Sedang Tidak Baik-baik Saja
