Tiket Mudik Gratis Dinilai Efisien Melindungi Kelompok Rentan

Tiket Mudik Gratis Dinilai Efisien Melindungi Kelompok Rentan – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Tiket Mudik Gratis Dinilai Efisien Melindungi Kelompok Rentan Kepakaran 9 Maret 2026, 12.33 Oleh : agungnoe Mudik atau pulang ke kampung halaman telah menjadi tradisi menjelang lebaran Idul Fitri. Tradisi inipun ditangkap baik oleh pemerintah maupun pihak swasta dengan menyelenggarakan program mudik gratis. Program ini dinilai bisa membantu masyarakat yang ingin pulang kampung dengan aman dan nyaman, program ini diharapkan memberikan manfaat sosial bagi masyarakat kekompok rentan  yang betul-betul membutuhkan. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Hengki Purwoto, S.E., M.A mengatakan total perjalanan mudik secara nasional mencapai sekitar 144 juta pergerakan. Meski secara kapasitas program mudik gratis sangat kecil dibandingkan total pergerakan pemudik nasional, namun diakui tetap memberi manfaat. Ia menyebut fokus pergerakan pemudik terbesar ada di Pulau Jawa, yakni sekitar 70–80 juta pergerakan sementara kapasitas mudik gratis dari Jabodetabek ke Jawa dan Sumatera hanya sekitar 15 ribu orang atau sekitar 0,01 persen. “Jadi secara proporsi memang sangat kecil,” ungkapnya, di FEB UGM, Senin (9/3). Hengki menjelaskan secara proporsi sekitar 50 persen arus mudik dari Jabodetabek ke wilayah timur Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Bali dan Nusa Tenggara, dan sebagian kecil lainya arus mudik dari Jabodetabek ke wilayah Sumatra dan beberapa terjadi regional di Kalimantan dan Sulawesi. Program mudik gratis umumnya difasilitasi untuk rute Jabodetabek menuju Jawa dan sebagian Sumatra menggunakan moda bus serta truk pengangkut sepeda motor roda dua. “Peran program mudik gratis ini memang tidak terlalu besar namun isu mudik gratis menjadi penting karena tingginya risiko kecelakaan di jalur Jabodetabek ke Jawa,” ucap pria yang aktif melakukan penelitian di bidang kebijakan infrastruktur khususnya transportasi ini. Dalam pandangan Hengki program mudik gratis menyasar kelompok masyarakat berdaya beli rendah, seperti buruh pabrik atau pelaku UMKM yang biasanya mudik menggunakan sepeda motor untuk mudik jarak jauh. Menurutnya, melalui program ini kelompok tersebut dapat mudik menggunakan bus untuk menekan risiko kecelakaan. Apakah program telah lama berjalan ini efisien? Menurut Hengki penghitungan efisiensi dapat dilakukan melalui perbandingan antara manfaat sosial dan biaya sosial. Bagaimanapun, katanya, manfaat program mudik gratis mengatasi eksternalitas negatif seperti kecelakaan lalu lintas, kemacetan, hingga tekanan berlebih pada infrastruktur jalan, jembatan, dan terminal. Penghitungannya apakah program ini efisien atau tidak dapat dilakukan dengan membandingkan antara biaya penyelenggara mudik gratis dengan biaya kesehatan dan kerusakan infrastruktur. Dalam penjelasannya, ia mengatakan jika terjadi pengurangan angka kecelakaan maupun fatalitas serta pengurangan kerusakan infrastruktur maka hal itu bisa dikonversi secara ekonomi. Jika nilai manfaat sosial bisa lebih besar daripada biaya penyelenggaraan mudik gratis yang sekitar Rp 2 miliar, maka itu artinya meskipun secara kuantitatif kecil, program ini berpotensi efisien karena manfaat sosialnya melampaui biaya fiskal yang dikeluarkan. Hengki menilai, program mudik gratis merupakan salah satu bentuk intervensi yang relatif lebih tepat dibandingkan pembatasan tarif secara ketat yang bisa merugikan operator transportasi. “Dengan kata lain, pemerintah tetap menjaga keberlanjutan usaha transportasi namun sekaligus melindungi kelompok rentan,” ujarnya. Sebagai rekomendasi kebijakan, iapun memandang perlu pengelolaan mudik harus menjadi bagian dari manajemen transportasi regional yang berkelanjutan. Dalam jangka pendek pemerintah bisa melakukan intervensi pembatasan tarif, dan bisa melakukan pengaturan periode libur agar tidak terlalu pendek. Hal ini sebagai upaya untuk mengurangi penumpukan arus mudik lebaran. Kebijakan untuk jangka menengah pemerintah perlu melakukan penguatan fasilitas antar moda transportasi, diantaranya pengembangan integrated ticketing antar moda transportasi. Sementara dalam jangka panjang, pemerintah perlu melakukan perbaikan yang lebih massif dengan mulai melakukan peningkatan kapasitas armada transportasi, menciptakan iklim industri transportasi yang menarik bagi pelaku usaha, memperkuat infrastruktur hingga mengembangkan bisnis penunjang seperti perusahaan ticketing dan asuransi. “Bagaimanapun transportasi umum harus menjadi andalan. Karena itu, perencanaan layanan harus mencakup peningkatan kualitas dan kuantitas yang dilakukan secara simultan agar setiap tahun kita tidak menghadapi beban fiskal berulang dengan pola yang sama,” pungkasnya. Reportase :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *