Kompak! Suami Istri Dikukuhkan Bersama jadi Guru Besar UGM – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaPendidikanPengukuhan Guru Besar Kompak! Suami Istri Dikukuhkan Bersama jadi Guru Besar UGM Pengukuhan Guru Besar 10 April 2026, 10.54 Oleh : gusti.grehenson Pasangan suami istri dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM dikukuhkan bersama sebagai Guru Besar pada Kamis (4/9) di Balai Senat Universitas Gadjah Mada. Kedua pasangan suami istri tersebut adalah Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D., yang dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Rekayasa Pengetahuan. Sedangkan sanga istri, Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, Ph.D., dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Kimia. Pada upacara pengukuhan ini, keduanya menyampaikan ucapan terima kasih kepada kolega hingga pada pasangan masing-masing atas dukungan dan motivasi sehingga bisa meraih jabatan jabatan akademik tertinggi. “Ungkapan terima kasih yang paling tulus saya persembahkan kepada istri saya, Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, atas kasih sayang, dukungan, motivasi, serta pengertian yang senantiasa diberikan sepanjang perjalanan kehidupan dan karier saya,” kata Edi Winarko. Sementara Tutik menyampaikan ungkapan yang sama pada suaminya. “Akhirnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami tercinta, Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D. yang selalu memberikan ridho, doa, dan dukungan penuh dalam setiap langkah perjalanan karier ini. Dukungan dan pengertiannya menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan saya untuk selalu terus berkarya,” katanya. Pengukuhan dua guru besar ini tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas pencapaian akademik keduanya, tetapi juga menegaskan kontribusi FMIPA UGM dalam pengetahuan ilmu pengetahuan lintas disiplin, mulai dari ilmu kimia hingga kecerdasan buatan yang bermanfaat di masa yang akan datang. Di dalam pidato pengukuhannya, Edi menyampaikan pidato yang berjudul “Data Berkualitas, AI Berdaya: Pentingnya Pendekatan Data-Centric dalam Penerapan kecerdasan Buatan di Dunia Nyata”. Prof. Edi mengangkat isu fundamental dalam perkembangan kecerdasan buatan, yakni pergeseran paradigma dari pendekatan model-centric menuju data-centric AI. Ia menjelaskan bahwa selama beberapa dekade terakhir, kemajuan kecerdasan buatan didorong oleh inovasi pada algoritma dan arsitektur model. “Sepanjang sejarah pengembangannya, kemajuan dalam kecerdasan buatan secara fundamental didorong oleh paradigma model-centric, di mana evolusi dicapai melalui inovasi pada algoritma dan arsitektur model,” paparnya. Pendekatan ini telah menghasilkan berbagai terobosan penting dan luar biasa dalam beberapa dekade terakhir, mulai dari Convolutional Neural Network (CNN), Long Short-Term Memory (LSTM), hingga arsitektur transformer yang kini menjadi fondasi model kecerdasan buatan modern lintas fungsi. Kendati demikian, ia menekankan bahwa fokus yang terlalu besar pada model ini menyisakan keterbatasan mendasar. Dalam praktiknya, banyak kegagalan sistem kecerdasan buatan justru disebabkan oleh kualitas data yang kurang memadai, bukan oleh kelemahan model itu sendiri. “Kinerja sistem kecerdasan buatan sangat bergantung pada kualitas data latih. Dua model yang identik dapat menghasilkan keluaran dan kualitas yang sangat berbeda jika dilatih dengan data yang berbeda,” jelasnya. Ia mengilustrasikan hal ini melalui analogi sederhana dalam perancangan mobil balap berperfoma tinggi. Meskipun insinyur telah menyempurnakan segala komponen mobil dengan presisi tinggi, mesin secanggih apa pun tidak akan bekerja optimal tanpa bahan bakar yang berkualitas. Lebih lanjut, ia juga menyoroti fenomena kesenjangan antara performa saat uji coba dan kondisi nyata di lapangan (operational gap) yang menjadi bukti nyata bahwa adanya keterbatasan sistem kecerdasan buatan saat ini. Model yang tampak unggul dalam pengujian sering mengalami penurunan performa saat dihadapkan pada data dunia nyata yang naik turun akibat distribution shift dan domain drift. Sebagai respons atas tantangan tersebut, muncul paradigma data-centric AI dalam pengembangan AI, yang menempatkan data sebagai pusat pengembangan sistem kecerdasan buatan. “Data-centric AI tidak menggantikan model-centric AI, melainkan melengkapinya. Pengembangan AI modern memerlukan rekayasa model dan rekayasa data yang berjalan secara paralel,” ujarnya. Dalam pendekatan ini, data tidak lagi dipandang sebagai sumber daya yang tetap, melainkan sebagai aset yang harus terus diperbaiki melalui proses pengumpulan, pelabelan, dan kurasi yang berkelanjutan. “Data merupakan fondasi utama kecerdasan buatan. Melalui pendekatan yang berpusat pada data, sistem AI yang lebih akurat dan dapat dipercaya dapat dibangun,” ungkapnya. Di akhir pidatonya, Prof. Edi
Kompak! Suami Istri Dikukuhkan Bersama jadi Guru Besar UGM
