KPA EMC²

Diskusi Upaya Penanganan Konflik Manusia dan Harimau di Riau Bersama Forum HarimauKita

Harimau merupakan margasatwa endemik yang berada patut untuk di lindungi oleh sebab kelangkaannya. Harimau Tersebar di alam bebas di berbagai belahan dunia, salah satunya Indonesia. Peran penting harimau dalam tatanan ekosistem hujan tropis Pulau Sumatra tidak dapat diabaikan. Kuatnya ikatan antara manusia dengan harimau mengakibatkan harimau menjadi salah satu ikon, lambing kekuatan dan ketakutan yang berkembang di lingkungan masyarakat. Hutan-hutan di Indonesia, lebih tepatnya di Sumatra menjadi istana bagi sang harimau untuk dapat berlindung dan menjaga kelestariannya. Kucing besar ini, saat ini dapat ditemui di Sumatra. Sebenarnya dia ada di pulau jawa juga, tetapi untuk saat ini bisa dikatakan punah.

Harimau Sumatra

Jumlah luasan hutan yang menurun, ekspansi industri besar-besaran dalam kurun empat dasawarsa terakhir, peningkatan laju populasi manusia, dan konversi hutan menjadi lahan untuk kebutuhan manusia terjadi pada wilayah kantung populasi harimau sumatera dan menjadi faktor-faktor besar yang menyebabkan konflik antara manusia dan harimau sumatera (KMH). Lebih jauh lagi, KMH yang terjadi dalam intensitas tinggi akan memiliki efek pada menurunnya populasi hewan tersebut akibat adanya aksi balas dendam atau retaliasi masyarakat sekitar kawasan hutan karena adanya konflik. Langkah antisipasi untuk konsekuensi tersebut sangatlah penting. Kesiapan para pihak terkait dalam melakukan mitigasi konflik dengan harimau perlu dibangun dan dimantapkan untuk meminimalisasi kerugian dan korban jiwa yang berpotensi timbul akibat terjadinya konflik. Panduan mengenai upaya antisipasi dan mitigasi konflik yang sistematis dan terorganisasi dibutuhkan agar terbangun suatu tim respon terorganisasi yang cepat, tepat, dan tanggap dalam proses mitigasi konflik harimau di lapangan.

Di Riau Khususnya, terdapat beberapa upaya pengendalian habitat dan kelestarian harimau dengan menjadikan daerah kehidupan harimau tersebut di cagar alam. Cagar alam itu direncanakan dan dibuat agar harimau dapat tumbuh dan berkembang di dalamnya tanpa adanya ganggugan dari manusia. Tetapi berdasarakan temuan beberapa tahun ini, harimau lebih banyak ditemukan di luar area konservasi. Hal itu membuat kita bertanya-tanya mengapa hal terebut dapat terjadi.

Setelah dilakukan berbagai macam penelitian dan pengawasan, para ahli menemukan bahwa harimau berada di luar area konservasi dikarenakan oleh sifat harimau yang memang suka berkelana dan daerah hutan konservasi tersebut tidaklah terlalu luas.

Kita sebagai manusia patutlah dapat mengenali keberadaan harimau di sekitar kita, yaitu dengan cara :

  1. Tapak/Jejak
  2. Kotoran/feses
  3. Cakaran pada pohon
  4. Kaisan di tanah
  5. Tanda lainnya

Jika kita bertemu dengan tanda keberadaan harimau, apa yang harus kita lakukan?

  1. Cek dan pastikan
  2. Ukur !
  3. Dokumentasikan
  4. Laporkan !

Mengapa bisa terjadi konflik antara manusia dan harimau?

Hal tersebut bukanlah persoalan sepele yang dapat kita abaikan. Para ahli telah melakukan penelitian dan pengamatan, bahwa perilaku harimau dapat menjadi menyimpang karena stress. Stress yang dimaksud disini harimau tersebut telah terdapat trauma yang disebabkan oleh manusia, semisalnya Jerat dan lokasi habitat yang telah hilang serta seringnya berjumpa dengan manusia.

Tipe-tipe harimau yang mau menyerang manusia biasanya adalah harimau yang masih remaja dan berusia sekitar 2 tahun. Harimau seumuran itu biasanya ingin tau dan masih mencoba-coba untuk berburu.dalam istilahnya harimau tersebut masih belajar dan hanya ingin mencoba hal baru dari selama ini yang dia tidak dapatkan.

Factor persediaan buruan yang berkurang pun menjadi salah satu penyebab penyimpangan perilaku harimau. Kita sebagai manusia alangkah baiknya tidak menghilangkan habitat harimau dan mnyebabkan harimau menjadi menyimpang dalam perilakunya.

Salam literasi, salam lestari, salam konservasi.

#SaveHarimauSumatera

Bagikan

LAMBANG

Lambang KPA EMC² adalah segitiga berada di tengah-tengah setengah lingkaran yang ada di atas dasar warna putih dengan sudut lancip di bawah dengan arti lambang menunjukkan kedudukan di FMIPA UNRI serta menunjukkan KPA EMC² berorientasi pada lingkungan dan kelestarian alam yang berbasiskan penelitian di dasari sebagai perwujudan dan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.