Seni Karawitan Mencari Ruang Pentas – Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA id EN Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Pendaftaran Sarjana dan Sarjana Terapan International Undergraduate Program (IUP) Pascasarjana Bantuan Keuangan & Beasiswa Tinggal di Kampus Biaya Pendidikan Pelajar Internasional Pendidikan Fakultas dan Sekolah Kalender Akademik Diktisaintek Berdampak Fasilitas Belajar UGM Online Kanal Pengetahuan LMS ELOK UGM Aplikasi Web SIMASTER E-Jurnal UGM Channel Internet Ruang Kerja Bersama Literasi Bahasa Inggris dengan AI Sumber Daya Siswa Aplikasi SIMASTER SIMASTER VNext Student Mobile Apps – IOS SIMASTER VNext Student Mobile Apps – Android Perpustakaan Fasilitas Organisasi Kemahasiswaan Kantor Internasional Transportasi Dukungan Klinik Kesehatan Rumah Sakit Akademik Health Promoting University Pusat Krisis Keamanan dan Keselamatan Penelitian Penelitian Sorotan dan Dampak Tinggi Publikasi Buku Produk Pusat Penelitian Keahlian Jaringan Kemenristekdikti LPDP Fasilitas Penelitian LPPT UGM 10 Learning Centers Open Data Manajemen Lab Terpadu Manajemen Penelitian Manajemen Etik dan Penguatan Integritas Research Administration Etichal Clearance Pengabdian Pengabdian Highlight dan High Impact KKN PPM KKN ECL Desa Binaan Teknologi Tepat Guna Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Unit Tanggap Bencana Pusat Regional Keahlian UMKM Layanan Suara Kita Aspirasi UGM Whistleblowing System lapor.go.id Layanan Darurat dan Pusat Krisis Layanan Kesehatan Terpadu Kontak Darurat Pusat Krisis Satgas PPKS Layanan Terpadu University Services Layanan Laboratorium Terpadu Layanan Homestay UGM Asrama Mahasiswa Layanan Pengadaan Layanan Terpadu Layanan Alumni Campus Visit Layanan Data dan Informasi Search UGM Peta Kampus UGM dalam Angka Layanan Informasi Publik Laporan Keuangan Agenda Layanan Elektronik/E-Mall UGM Online SIMASTER VNext Parents – Android SIMASTER Vnext Parents – IOS Virtual Campus Tour Tentang Tentang UGM Sambutan Rektor Visi dan Misi Tugas dan Fungsi Organisasi Direktorat dan Unit Kerja Sejarah Makna Lambang Himne Gadjah Mada Panduan Identitas SDGs SDGs Portal SDGs Dashboard SDGs dengan AI Berita Peduli Bencana Email Perpustakaan Mahasiswa Staff Alumni Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA BeritaKepakaran Seni Karawitan Mencari Ruang Pentas Kepakaran 14 April 2026, 12.18 Oleh : gusti.grehenson Setiap 15 April, selalu diperingati sebagai Hari Seni Dunia sebagai momen untuk kembali melihat peran seni dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer yang semakin cepat, seni tradisional seperti karawitan menghadapi tantangan untuk tetap hidup dan dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda. Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Dr. Dra. Sartini, M.Hum., yang memiliki fokus pada Filsafat Nusantara, menilai bahwa karawitan sebenarnya masih memiliki tempat yang kuat, khususnya di Yogyakarta. Namun, keberlangsungannya sangat bergantung pada bagaimana seni itu terus dipraktikkan, bukan hanya sekedar disimpan sebagai warisan budaya. Menurutnya, perkembangan teknologi digital justru bisa menjadi peluang besar untuk mengenalkan karawitan lebih luas. Kini, pertunjukan karawitan dapat diakses dengan mudah melalui platform seperti YouTube atau siaran langsung. Bahkan, tidak jarang justru komunitas di luar negeri yang aktif menampilkan karawitan. “Dengan zaman digital sekarang ini justru bagus untuk sosialisasi, bahkan ke dunia,” ujarnya, Selasa (14/4). Meski begitu, ia melihat ada ironi ketika masyarakat lokal belum sepenuhnya memanfaatkan peluang tersebut. Banyak perangkat gamelan di lingkungan masyarakat yang tidak digunakan karena tidak ada ruang untuk tampil. Akibatnya, minat untuk berlatih juga menurun. “Budaya itu akan hidup kalau sering dipertunjukkan. Tapi sering kali tidak ditampilkan karena tidak ada ruang untuk dipentaskan,” jelasnya. Kendati demikian, di sisi lain, Sartini menilai bahwa minat terhadap karawitan sebenarnya masih ada. Hal ini terlihat dari antusiasme masyarakat dalam mengikuti festival atau pertunjukan. Salah satu contohnya adalah Festival Karawitan di UGM pada saat Dies Natalis Fakultas Filsafat yang telah berjalan selama beberapa tahun dan selalu menarik banyak peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga komunitas umum. Festival seperti ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa masyarakat membutuhkan wadah untuk mengekspresikan seni. Tanpa ruang seperti itu, seni tradisional akan sulit berkembang meskipun minatnya masih ada. Selain sebagai hiburan, karawitan juga memiliki nilai filosofis yang dalam. Dalam satu pertunjukan, setiap pemain memiliki peran yang berbeda, tetapi harus saling mendengarkan dan bekerja sama agar menghasilkan harmoni. Nilai ini dianggap relevan dengan kehidupan sehari-hari. “Supaya lagunya bagus, mereka itu harus saling ngemong, saling komunikasi, saling mendengarkan. Itu seperti kehidupan manusia,” tuturnya. Terkait generasi muda, Sartini menilai bahwa rendahnya keterlibatan mereka bukan semata karena tidak tertarik, tetapi lebih karena kurangnya akses dan paparan. Jika sejak awal mereka tidak dikenalkan dengan karawitan, maka wajar jika mereka lebih memilih hiburan lain yang lebih mudah dijangkau. Ia juga menyoroti kuatnya pengaruh budaya populer global, seperti musik Korea, yang bisa menjadi sangat populer karena didukung oleh promosi yang masif. Hal ini, menurutnya, seharusnya menjadi pelajaran bahwa seni tradisional juga perlu diperkenalkan secara lebih aktif di ruang digital. “Kalau seni kita tidak diangkat, ya akan kalah dengan yang lain. Padahal kalau dikenalkan, orang juga bisa bangga,” katanya. Dalam refleksinya pada Hari Seni Dunia, Sartini berharap agar karawitan tidak hanya dipertahankan sebagai simbol budaya, tetapi juga terus dihidupkan melalui praktik nyata. Ia menekankan pentingnya peran berbagai pihak, mulai dari komunitas, sekolah, hingga institusi, untuk menyediakan ruang bagi seni tradisional agar tetap berkembang. Dengan adanya dukungan tersebut, karawitan diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan zaman dan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Kagama Karawitan Tags: SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Kuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDGs Seni Karawitan Berita Terkait Sering Buka Medsos, Tingkat Literasi Baca Tulis Anak Remaja Menurun 14 April 2026 Fenomena Pengunduran Diri Pejabat Publik 14 April 2026 Berhenti Makan Sebelum Kenyang, Ketahui Manfaatnya untuk Kesehatan 13 April 2026 Berita Terbaru Sering Buka Medsos, Tingkat Literasi Baca Tulis Anak Remaja Menurun 14 April 2026 Dosen FIB UGM Prof. Pujiharto Dikukuhkan Guru Besar Bidang Sastra Pascamodern 14 April 2026 Mahasiswa UGM Bikin Stike
Seni Karawitan Mencari Ruang Pentas
